PENGARUH PENGUATAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP

DALAM PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KEAKSARAAN

BAGI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu program PNF yang terkait erat dengan upaya mengatasi dampak krisis multidimensi adalah pendidikan keaksaraan. Pendidikan keaksaraan secara umum dirancang untuk memberantas ketunaaksaraan masyarakat dari buta aksara, angka dan bahasa Indonesia serta buta pendidikan atau pengetahuan dasar.

Program keaksaraan dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar warga masyarakat baik yang termasuk buta aksara, aksarawan baru maupun aksarawan lanjutan. Warga belajar keaksaraan dibagi atas dua karakteristik yaitu berasal dari buta aksara murni dan DO SD/MI kelas 1-3 yang masih memerlukan layanan pendidikan keaksaraan,

Secara nasional  pada tahun 2010, menurut data BPS Indonesia mempunyai penduduk buta aksara yang cukup besar, yaitu 14, 5 juta orang atau 9,6 % dari jumlah penduduk usian 10 tahun keatas (Kusnadi 2005: 1). Hal ini terjadi karena berbagai sebab, antara lain pengaruh adat istiadat yang kuat yang membatasi ruang gerak perempuan untuk mengakses pendidikan, lokasi tempat tinggal, dan jender. Jumah ini terutama dialami oleh penduduk perempuan pedesaan yang secara sosiologis selalu dinomorduakan dari laki-laki, dan keengganan para perempuan pedesaan untuk mengikuti program keaksaraan karena tidak merasa butuh.

Pendidikan keaksaraan mempunyai dimensi pemberdayaan yang mempunyai daya ungkit bagi pembangunan masyarakat dan pembangunan ekonomi, bagi masyarakat yang bertipikal buta aksara dan mempunyai kemampuan ekonomi lemah.

Program keaksaraan dikembangkan menggunakan konsep pendekatan dari bawah ke atas, sesuai konteks lokal dan menggunakan proses partisipatif untuk menciptakan model lokal keaksaraan. Program pembelajaran didasarkan pada pemenuhan minat dan kebutuhan WB, serta mencakup kegiatan yang dapat membantu mengaplikasikan ketrampilan baru yang diperoleh.

  1. B.     Rumusan Masalah

Perumusan masalah penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana kondisi aktual sosial ekonomi, khususnya pendidikan keaksaraan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
  2. Bagaimana rancangan model pembelajaran keaksaraan dengan penguatan pendidikan kecakapan hidup bagi pemberdayaan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
  3. Bagaimana pengelolaan model pembelajaran keaksaraan dengan penguatan pendidikan kecakapan hidup bagi pemberdayaan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
  1. C.    Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

  1. Mendeskripsikan kondisi aktual sosial ekonomi, khususnya pendidikan keaksaraan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
  2. Mengembangkan rancangan model pembelajaran keaksaraan dengan penguatan pendidikan kecakapan hidup bagi pemberdayaan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
  3. Mendeskripsikan pengelolaan model pembelajaran keaksaraan dengan penguatan pendidikan kecakapan hidup bagi pemberdayaan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
  1. D.    Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Teoritis
  2. Mengembangkan konsep rancangan pembelajaran keaksaraan dengan penguatan pendidikan kecakapan hidup bagi pemberdayaan perempuan, untuk menjadi alternatif model pemberdayaan.
  3. Mengembangkan konsep pembelajaran keaksaraan dengan penguatan pendidikan kecakapan hidup bagi pemberdayaan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
    1. Manfaat Praktis
  4. Bagi lembaga-lembaga yang terkait dengan pendidikan keaksaraan  Direktorat Dikmas, P2PNFI, BPPNFI, BPKB, SKB, DINAS Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota, PKBMN, dan LSM), sebagai masukan untuk menjadi alternatif pengembangan dan penyelenggaraan program keaksaraan.
  5. Bagi pengelola dan penyelenggara pendidikan keaksaraan, sebagai masukan dalam perencanaan dan penyelenggaraan program keaksaraan, agar dapat berjalan secara optimal.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 A.    Kerangka Berfikir

Pendidikan pada dasarnya diselenggarakan dalam rangka membebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup dan kehidupan yang melingkupinya. Dalam konteks pendidikan keaksaraan, berarti bagaimana memberaksarakan penduduk dari ketunaaksaraan agar dapat membaca dunia kehidupanya. Menurut Archer & Cottingham, (dalam Kusmiadi, 2010: 10), menyatakan bahwa filosofi pendidkan keaksaraan adalah proses/cara untuk mengingat, mencatat, mengungkapkan, serta berkomunikasi lintas ruang dan waktu.

Dahulu orang disebut sebagai buta aksara, ternyatadapat melakukan seperti dinyatakan diatas, baik melalui lagu ,drama, musik, adat istiadat, sejarah dan sebagainya. Seperti pada masyarakat pedalaman , mereka menguasai cara bercocok tanam, beternak membangun rumah dan sebagainya. Mereka menguasai pendidikan dasar yang dibutuhkan untukbertahan hidup, bahkan dalam kondisi sesulit apapun. Sehingga mereka tidak merasa butuh untuk belajar keaksaraan, untuk itu diperlukan motivasi agar merka mau belajar keaksaraan dan terbebas dari ketunaaksaraan yang dialami.

UNESCO mendefinisikan kemampuan keaksaraan atau melek aksara adlah kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis kalimat sederhana yang ndiperlukan dalam kehidupan sehari-hari, dan seseorang dikatakan mempunyai kemempuan keaksaraan fungsional jika seseorang tersebut dapat terlibat dalam aktivitas dimana kemampuan keaksaraan merupakan prasarat effectie function kelompok dan sebagai dasar bagi dirinya  untuk meningkatkan kemaampuan membaca, menulis dan berhitung.

Untuk mewujudkan hal ini, perlu diterapkan prinsip pendidikan berbasis luas yang tidak hanya berorientasi pada bidang akademik atau vokasional semata, tetapi juga memberikan bekal learning how to learn sekaligus learning how to unlearn, tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktekkannya untuk memecahkan problema kehidupan sehari-hari (Bently, dalam Nurhalim, 2008). Dengan tertarik untuk mendapatkan ketrampilan kecakapan hidup sesuai kebutuhan, diharapkan mereka termotivasi untuk belajar keaksaraan, sehingga mampu membaca lebih banyak kehidupanya.

Pada pelaksanaanya program keaksaraan fungsional dengan penguatan ketrampilan merupakan pendekatan pemberantasan buta aksara yang menitikberatkan pada proses dari, oleh dan untuk peserta didik dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan membaca dan menulis dan berhitung yang dipadukan dengan praktek ketrampilan yang segera dapat digunakan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu pendidikan keaksaraan diharapkan menjadi lebih efektif digunakan untuk memberantas ketunaaksaraan masyarakat dengan mengintegrasikanya dengan ketrampilan fungsional sesuai kebutuhan peserta didik. Dengan modal pedidikan ketrampilan fungsional yang diperoleh diharaphan dapat memotivasi WB untuk mengikuti  program keaksaran hingga tuntas dan tidak kembali menjadi buta aksara kembali.

  1. Definisi Operasional
  1. Pendidikan keaksaraan merupakan proses pemberdayaan yang memungkinkan perempuan mampu mengenali faktor-faktoryang menghalangi perubahan atau perkembangan jender.
  2. Pendidikan keaksaraan merupakan instrumen yang efektif untuk pembangunan sosial ekonomi dan integrasi nasional.
  3. Penguatan pendidikan ketrampilan pada pendidikan keaksaraan memberikan kontribusi pasda pemberdayaan perempuan.

Perempuan menjadi lebih berdaya, mandiri, dan mampu memeinkan peranya dalan keluarga dan masyarakat, serta mampu mengambil keputusan

BAB III

PENDEKATAN PENELITIAN

 

  1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian dan pengembangan, dengan menggunakan gabungan dua metode pendekatan, yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kondisi aktual masyarakat, pendekatan kuantitatif digunakan untuk meneliti model pengembangan pembelajaran keaksaraan dengan penguatan pendidikan kecakapan hidup bagi pemberdayaan perempuan dengan menggunakan studi kasus penduduk Desa Pendem. Penelitian ini  menggunakan metode kuasi eksperimen (eksperimen semu) terhadap seratus WB keaksaraan di Desa Pendem yang terbagi dalam lima kelompok untuk mengetahui efektifitas pengaruh penguatan pendidikan kecakapan hidup terhadap pendidikan keaksaraan yang dilaksanakan.

  1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah.

  1. Populasi dan Sampel
  1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan obyek penelitian.  Populasi dalam penelitian ini adalah warga belajar keaksaraan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan yang berjumlah seratus orang yang terbagi dalam lima kelompok..

  1. Sampel

Sampel merupakan sebagian kecil obyek penelitian. Penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen dengan menggunakan keseluruhan populasi sebagai sampel dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan disain pra eksperimen, dengan menggunakan dua kelompok eksperimen dan tiga yang lainya sebagai kelompok pengendali.

  1. Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.

  1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendidikan kecakapan hidup.
  2. Variabel terikat yaitu pengelolaan pendidikan keaksaraan bagi pemberdayaan perempuan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.
  1. Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas menggunakan uji validitas isi dan validitas kriteria. Validitas isi digunakan untuk mengukur sejauh mana prestasi belajar warga belajar keaksaraan dalam belajar dengan menggunakan serangkaian test dengan menggunakan skor bertingkat untuk membedakan tingkat kemampuan/prestasi yang diperoleh warga belajar selama pendidikan. Validitas kriteria digunakan untuk mengukur efektifitas model keaksaraan dengan penguatan pendidikan ketrampilan dapat mendongkrak prestasi belajar warga  belajar keaksaraan..

  1. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpul data yang digunakan adalah dengan menggunakan tes prestasi belajar (achievement test) yang digunakan untuk mengukur tingkat prestasi warga belajar dalam penyerapan materi belajar untuk menentukan efektifitas pemberian penguatan pendidikan kecakapan hidup terhadap pendidikan keaksaraan.

Serangkaian test dilakukan mulai pra test, post test dan pasca test, untuk mengetahui dan mengukur efektifitas penggunaan model keaksaraan dengan memberikan rangsangan penguatan ketrampilan. Dengan manipulasi yang dilakukan diharapkan dapat mendongkrak motivasi belajar warga binaan, sesuai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

  1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang sesuai dan tepat adalah menggunakan statistik analisis varian (anova) untuk menentukan pengaruh efektifitas pemberian penguatan pendidikan kecakapan hidup terhadap prestasi pendidikan keaksaraan penduduk Desa Pendem, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan.

Analisis data yang diperoleh melalui angket kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Memeriksa apakah jawaban yang diberikan responden sesuai dengan petunjuk atau tidak.
  2. Membuat tabulasi data.
  3. Data yang telah ditabulasi kemudian dicari pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan analisis varian, sebagai berikut :

MSo

F =   MSx

 

Keterangan :

F                =   Frekuensi/ rasio perbedaan

MS                        =   Kuadrat Mean

Hasil perhitungan tersebut kemudian dikonsultasikan dengan tabel analisis varian.

.