1. A.    JUDUL

Pemanfaatan Kain Perca Batik dalam Pembuatan ”Sandal dan Aksesoris” sebagai Upaya Pemberdayaan Pemuda Pengangguran di Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan.

 

  1. B.     LATAR BELAKANG

Generasi muda merupakan salah satu potensi bagi kelangsungan pembangunan, tetapi manakala generasi muda tidak memiliki kemampuan menjadi hambatan dalam proses pembangunan. Pembangunan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dewasa ini bukan hanya pembangunan fisik tetapi juga pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan tersebut dilaksanakan untuk mengembangkan kemampuan sumber daya manusia yang merupakan sumber tenaga kerja muda atau sebagai tenaga kerja potensial yang diemban oleh generasi muda. Pembinaan dan pengembangan generasi muda diarahkan agar menjadi kader pemimpin bangsa, mandiri, beretos kerja, disiplin, tangguh, memiliki kemampuan menghadapi tantangan masa kini dan masa yang akan datang. Sehubungan dengan kenyataan tersebut, maka perlu pemberdayaan generasi muda agar dapat berperan serta dalam pembangunan. Peran serta seluruh komponen bangsa sangat berpengaruh terhadap keberhasilan. Peran pemuda pengangguran memiliki kekuatan strategis dalam pencapaian pembangunan bangsa. Dalam rangka pemberdayaan pemuda putus sekolah, salah satu program pemerintah adalah pemberdayaan pemuda pengangguran di seluruh tanah air. Pemuda pengangguran dewasa ini memiliki peran, tugas dan fungsi yang semakin fundamen, seiring dengan perkembangan masyarakat peran pemuda pengangguran perlu dioptimalkan. Permasalahan yang dihadapi untuk memberdayakan  pemuda pengangguran  di perkotaan adalah kurangnya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam kehidupan. Permasalahan tersebut perlu dicari solusi agar dapat menyelesaikan masalah tersebut. Pemecahan masalah tersebut merupakan tugas kita bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Dalam rangka menjalin kerjasama antara pemerintah daerah danperguruan tinggi, maka disusunlah program pengabdian kepada masyarakat untuk memberdayakan pemuda pengangguran  melalui pelatihan keterampilan tertentu.

Langkah awal upaya pemberdayaan pemuda pengangguran  di perkotaan dilakukan analisis situasi untuk menemukan potensi daerah yang dapat dikembangkan sebagai sarana atau alat pemberdayaan masyarakat. Hasil analisis menunjukkan penyebab kurangnya pemberdayaan pemuda pengangguran adalah banyaknya pengangguran kaum pemuda pengangguran dalam usia produktif karena mereka tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai untuk mengantarkan mereka kepada suatu pekerjaan yang memiliki dengan daya jual tinggi. Situasi tersebut berkaitan dengan latar belakang kehidupan pemuda pengangguran yang mengalami ketidakberdayaan di bidang ekonomi, maka sudah dapat dipastikan mereka tidak dapat menjangkau pendidikan formal maupun nonformal (kursus) yang mampu membekali keterampilan untuk mencari pengahasilan yang layak. Mahalnya biaya pendidikan baik formal maupun nonformal mengakibatkan kaum pemuda pengangguran produktif tidak bisa mendapatkannya.

Data BPS  Kota Pekalongan (2005), jumlah penduduk tercatat 264.932 orang. Berdasarkan jenis kelamin dapat dibedakan laki-laki 100.983 (49,44%) sedangkan perempuan 133.949 (50,56%). Data Banyaknya pekerja di Kota Pekalongan dapat dilihat pada abel 1 berikut:

Tabel 1: Banyaknya Pekerja Menurut Jenis Kelamin di Kota Pekalongan Tahun 2004.

KECAMATAN

JENIS KELAMIN

JUMLAH

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

(1)

(2)

(3)

(4)

PERTANIAN

1.017

1.480

2.497

PERTAMBANGAN

0

0

0

INDUSTRI

10.720

6.773

17.493

LISTRIK

135

39

174

BANGUNAN

709

709

PERDAGANGAN

470

807

1.277

ANGKUTAN & PERHUBUNGAN

712

230

942

KEUANGAN

608

279

887

JASA DAN LAIN-LAIN

660

145

805

Jumlah/Total

15.031

9.753

24.784

2003

15.041

9.714

24.755

2002

14.825

9.515

24.340

Sumber : Dinas Tenaga Kerja Kota Pekalongan

Data tersebut menunjukkan bahwa di Kota Pekalongan jumlah penduduk yang tidak sampai memasuki lapangan kerja (belum siap kerja) dan pengangguran (tidak bekerja) sebesar 240.148 orang. Dari jumlah tersebut terdiri dari laki-laki sebesar 85.952 orang dan perempuan sebesar 124.196 orang. Artinya penduduk yang belum siap kerja dan tidak bekerja lebih banyak dari penduduk yang sudah bekerja (mendapatkan lapangan pekerjaan).       Berdasarkan hasil studi pendahuluan jumlah penduduk yang belum siap kerja dan tidak bekerja di Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, sebanyak 240.148 orang. Dari data tersebut diperoleh bahwa pemuda pengangguran tidak memiliki pekerjaan tetap dan layak kira-kira sebanyak 148. Program PKM pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Lembaga pengabdian masyarakat UNNES, mahasiswa Jurusan PLS dan Kurtekdik bermaksud memberdayakan pemuda pengangguran di  Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan melalui Pelatihan Keterampilan Memanfaatkan Kain Perca Batik sebagai Bahan Pembuat Sandal dan Aksesoris.

  1. C.    TINJAUAN PUSTAKA
    1. a.      Konsep Pemberdayaan

Pemberdayaan adalah suatu proses pembelajaran masyarakat untuk mengembangkan seluruh potensi masyarakat agar dapat berperan serta dalam pembangunan. Pemberdayaan adalah suatu proses peningkatan kemampuan pada seseorang atau kelompok agar dapat memahami dan mengontrol kekuatan-kekuatan sosial, ekonomi dan atau politik sehingga dapat memperbaiki kedudukannya di tengah masyarakat. (Suzanne Kindervatter, 1979:79). Konsep pemberdayaan (empowerment) mulai tampak kepermukaan sekitar tahun 1970-an dan terus berkembang sepanjang dekade 1980 hingha 1990-an. Kemunculan konsep ini hampir bersamaan dengan aliran-aliran seperti eksistensialisme, fenomenologi dan personasilme. Kemudian disusul oleh masuknya gelombang pemikiran neo-marxismefreudianisma termasuk didalamnya aliran struturalisme dan sosiologi kritik.

Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan masyarakat selalu dihubungkan dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan. Pada dasarnya pemberdayaan diletakkan pada kekuatan tingkat individu dan sosial. Menurut Rappaport (1987) pemberdayaan diartikan sebagai pemahaman secara psikologis pengaruh kontrol individu terhadap keadaan sosial, kekuatan politik dan hak-hak menurut undang-undang. Sementara itu, McArdle (1989) mengartikan sebagai proses pengambilan keputusan oleh orang-orang yang secara konsekuen melaksanakan keputusan tersebut. Dalam upaya mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan manusia harus berfungsi sebagai pemain utama dalam pembangunan bukan semata-mata sebagai obyek. Dalam kerangka pemikiran ini maka pemberdayaan sumberdaya manusia menjadi relevan. Bagaimana kelompok miskin dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan merupakan masalah yang harus dipecahkan dalam rangka mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pemberdayaan merupakan hal yang menjadi pusat perhatian dalam proses pembangunan belakangan ini diberbagai negera. Kemiskinan yang terus melanda dan terus menggerus kehidupan umat manusia akibat resesi internasional yang terus bergulir dan proses restrukturisasi, agen-agen nasional-internasional serta negara-negara setempat untuk menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap strategi partisipasi masyarakat sebagai sarana percepatan proses pembangunan. Karena itu perlu ditekankan tentang pentingnya pendekatan  alternatif berupa pendekatan pembangunan yang diawali oleh proses pemberdayaan masyarakat lokal (Craig and mayo, 1995).

Pemberdayaan merupakan strategi yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi, sosial, dan transformasi budaya. Proses ini pada akhirnya akan dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat. Dalam hal ini acara mengatasi hal terbaik dalam pembangunan adalah membiarkan semangat wiraswasta tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, berani mengambil resiko, berani bersaing, menumbuhkan semangat untuk bersaing dan menemukan hal-hal baru melalui partisifasi masyarakat. Srategi pembangunan meletakkan partisipasi masyarakat sebagai fokus isu sentral pembangunan saat ini. Partisipasi masyarakat di dunia ketiga merupakan strategi efektif untuk mengatasi masalah urbanisasi dan industrialisasi sedangkan Bank Dunia meletakkan pemebrdaaan sebagai salah satu obyek utama dalam partisipasi masyarakat. Secara khusus pemberdayaan dilaksanakan melalui kegiatan kerja sama dengan sukarelawan, bukan bersumber dari pemerintah tetapi dari LSM ataupun organisasi masyarakat lainnya.

  1. b.      Konsep Pelatihan

Pelatihan merupakan suatu proses pembelajaran untuk memberikan kemampuan teknis dalam memasuki pekerjaan dan atau meningkatkan kinerja seseorang, kelompok atau lembaga. Pelatihan adalah suatu proses yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan melalui pelatihan dapat diatasi adanya permasalahan saat ini dengan keadaan atau situasi yang diharapkan pada saat mendatang. (Paul G Friedmen dan EA. Yarbrough, 1985:4). Menurut Simamora (1995:287) pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan, pengalaman ataupun perubahan sikap seseorang individu. Dari definisi tersebut dapat diartikan pelatihan merupakan proses mengembangkan keterampilan, menyebarluaskan informasi dan mempebaiki tingkah laku serta membantu individu atau kelompok pada suatu organisasi agar lebih efektif dan efisien dalam menjalankan pekerjaannya. Peningkatan kinerja akan menyiratkan perubahan yang terjadi dalam diri individu atau kelompok secara terukur dalam hal pengetahuan, keterampilan, keahlian, sikap dan perilaku sosial.

Berdasarkan konsep tersebut, program pelatihan pengembangan sikap dan perilaku kewiraswastaan bagi pemuda merupakan salah satu alternatif upaya pemberdayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Dari pelatihan ini diharapkan dapat mengembangkan sikap kewirausahaan peserta, sehingga mereka tergerak dan termotivasi untuk bangkit dalam memecahkan masalah ketidakpastian pekerjaan yang dihadapi menjadi membuka peluang kepastian berusaha.

Pelatihan sebagai bentuk satuan pendidikan luar sekolah sebagai upaya pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kecakapan intelektual dan keterampilan motorik secara efektif dari warga belajar. Dengan demikian kegunaan pelatihan adalah: a) untuk menumbuhkan pemahaman dalam melengkapi penguasaan teoritis dan praktis, b) untuk mengembangkan kecakapan intelektual, c) untuk mengembangkan keterampilan motorik secara efektif, dan d) untuk mengarahkan kembali pengalaman belajar dari peserta didik ke dalam jalur-jalur yang positif dan bermanfaat. Pelatihan dibutuhkan pada saat pekerjaan yang mensyaratkan individu untuk memiliki keahlian, pengetahuan atau sikap yang berbeda dari atau disamping yang saat ini dimilikinya. Sebagaimana dikemukakan James R. Davis (1998: 44), pelatihan sangat esensial untuk mengembangkan pekerjaan dan proses transformasi pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut benar-benar bernilai dan bermakna.

Soenarto (1998) dalam buku Moekijat (1993:4) berpendapat bahwa pelatihan adalah kegiatan belajar untuk mengubah perilaku orang dalam melakukan pekerjaan. Penyelenggaraan pelatihan yang baik dan optimal akan memungkinkan peserta pelatihan dapat meningkatkan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dalam menjalankan tugas dan meningkatkan produktivitas serta kualitas kerjanya.

Berdasarkan konsep tersebut di atas, Pemanfaatan Kain Perca Batik dalam Pembuatan ”Sandal dan Aksesoris” sebagai Upaya Pemberdayaan Pemuda Pengangguran di Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan bermaksud untuk memberikan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam membuat sandal dan aksesoris yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

  1. D.    RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan analisis situasi dan identifikasi tersebut, maka permasalahan yang diajukan adalah:

  1. Bagaimana pelaksanaan pemanfaatan kain perca batik dalam pembuatan ”sandal dan aksesoris” sebagai upaya pemberdayaan pemuda pengangguran di Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan?
  2. Bagaimana dampak pemanfaatan kain perca batik dalam pembuatan ”sandal dan aksesoris” sebagai upaya pemberdayaan pemuda pengangguran di Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan?
  1. E.     TUJUAN KEGIATAN

Setelah pelatihan dilaksanakan para pemuda pengangguran dapat:

  1. Mempraktekkan keterampilan membuat sandal dan aksesoris dengan memanfaatkan kain perca batik.
  2. Mengemas sandal dan aksesoris untuk dapat dipasarkan.
  3. Meningkatakan pendapatan pemuda pengangguran dan putus sekolah.


  1. F.     LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan dengan adanya program ini :

a)     Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam menciptakan suatu inovasi baru pembuatan sandal dan aksesoris dengan memanfaatkan kain perca batik.

b)     Mahasiswa dapat membantu meningkatkan nilai guna kain perca batik yaitu sebagai bahan baku pembuatan sandal dan aksesoris.

c)     Mahasiswa dapat membantu memberdayakan kreatifitas masyarakat Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan.

d)    Membantu mahasiswa melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat.

  1. G.    KEGUNAAN PROGRAM
    1. Bagi pemuda pengangguran untuk:

a) Memiliki keterampilan teknis membuat sandal dan aksesoris dengan memanfaatkan kain perca batik.

b)  Memiliki keterampilan teknis pengemasan sandal dan aksesoris

c)  Memiliki keterampilan teknis pemasaran.

d)  Memiliki mata pencaharian dan pendapatan yang tetap dan layak.

  1. Bagi  masyarakat sekitar untuk:

a)      Menumbuhkan kesadaran para pemuda pengangguran sebagai bagian dari usaha peningkatan kualitas kehidupan keluarga.

b)      Meningkatnya kualitas pemuda pengangguran yang dapat dapat berperan dalam peningkatan kehidupan keluarga

c)      Berkembangnya dinamika pemuda pengangguran dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. H.    GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

Perca batik merupakan salah satu limbah terbesar di kota pekalongan yang dihasilkan baik dari pabrik maupun industri rumahan (konfeksi). Sebagai kota batik, di Pekalongan dan sekitarnya banyak terdapat sentra konfeksi batik. Dari sekian banyak konfeksi batik dengan segala produk pakaian dari bahan batik tersebut, kita dapati limbah kain batik yang biasa disebut dengan perca batik.

Kami melihat perca batik ini belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan sering pula dibuang atau dibakar begitu saja. Padahal perca batik jika dimanfaatkan secara tepat guna dapat menghasilkan dan menjadi mata pencaharian.

Dilihat dari segi pemanfaatan perca batik yang belum optimal bahkan sering pula dibuang atau di bakar begitu saja. Untuk itu, kami bermaksud untuk peduli dan mengoptimalkan perca batik untuk dijadikan beraneka ragam kerajinan. Dimana bahan dasarnya mudah didapatkan, harganya terjangkau oleh masyarakat dan tidak kalah dari produk-produk berbahan dasar batik lainnya. Selain itu pembuatan produk ini akan membuka peluang bisnis bagi pemuda untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan manajerial serta menambah penghasilan baginnya. Hal itu juga dapat mengurangi angka pengangguran khususnya di Kota Pekalongan.

  1. Gambaran Produk
    1. Keunikan Produk

Produk yang kami tawarkan adalah produk dari bahan dasar perca batik. Perca batik yang menjadi bahan dasar produk selain mudah didapatkan di berbagai konveksi di Kota Pekalongan, harganyapun relatif lebih murah serta harga jual produkpun terjangkau dari segala kalangan masyarakat.

  1. Novelty (keunggulan)

Produk dengan bahan dasar batik sangat dikenal dalam masyarakat luas. Produk ini merupakan wujud pengoptimalan dalam pemanfaatan perca batik yang tidak kalah saing dengan produk batik lain.

  1. Lingkupan Tempat Produksi

Tempat produksi kerajinan perca batik berada di Jalan Jlamprang Krapyak Lor Gg.6 No. 1 Pekalongan. Lokasi ini dekat dengan jalan raya sehingga mudah diakses dengan kendaraan umum. Keberadaan tempat produksi ini sangat diterima dalam masyarakat karena dapat mengurangi pengangguran masyarakat sekitar. Lokasi ini juga strategis dalam usaha pemasaran produk.

  1. Model Bisnis

Model bisnis yang dijalankan perusahaan ada 2 yaitu model jual langsung dan komunitas. Model jual langsung dilakukan dengan cara menjual langsung ke tangan konsumen dan untuk model komunitas dilakukan dengan memanfaatkan tempat pemasaran yang sudah ada seperti toko-toko fashion, grosir, kerjasama ke lembaga-lembaga, hotel dan koperasi.

  1. Resiko

Selain memiliki peluang usaha kami juga memiliki resiko yang harus dihadapi dan dicari solusinya. Beberapa resiko yang mungkin akan kami hadapi diantaranya adalah :

  1. Persaingan

Sekarang ini  berbagai macam model berbahan dasar batik, baik berupa kain maupun perca banyak ditemui dipasaran, usaha yang kami lakukan ini untuk menarik minat konsumen dengan melakukan promosi produk secara berkesinambungan serta membuat produk dengan berbagai macam kreasi dan mode serta mementingkan kualitas produk. Kami juga memberikan pelayanan khusus kepada konsumen yang memberikan mode produk sendiri.

  1. Daya Tahan Produk

Produk (kerajinan perca batik) bersifat tahan lama karena perca batik diolah menjadi dompet, sandal dan aksesoris menggunakan mesin pemotong dan mesin jahit serta bahan (lem, spon) yang berkualitas. Produk yang kami hasilkan dapat bertahan cukup lama ±  1-2 tahun.


Produksi

  1. Bahan dan Alat Produksi

Usaha pembuatan produk ini membutuhkan bahan baku berupa perca batik. Bahan baku tersebut tersedia cukup banyak dan mudah didapatkan di Kota Pekalongan. Bahan pendukung antara lain spon tebal, spon tipis, lem, benang, mitasi, mika, resleting, ceplikan (kancing ceplik), dan kaca.

Tabel. Kebutuhan Peralatan

No.

Nama Barang

Jumlah

Harga Satuan

Harga

1. Alat Cetak Sandal 1 buah Rp. 3.000.000,00 Rp.     3.000.000,00
2. Pisau 5 buah Rp.      10.000,00 Rp.         50 .000,00
3. Sunglon 1 set Rp.    200.000,00 Rp.        200.000,00
4. Sconet Jahitan 1 set Rp.      70.000,00 Rp.          70.000,00
5. Mesin Jahit 1 buah Rp.    500.000,00 Rp.        500.000,00
6. Gunting 5 buah Rp.      15.000,00 Rp.          75.000,00
7. Jarum Jahit 1 set Rp.        5.000,00 Rp.            5.000,00
Jumlah Rp.    3.900.000,00

Tabel. Kebutuhan Bahan Baku dan Pendukung Tiap Produksi

No.

Nama Barang

Jumlah

Harga Satuan

Harga

Perca Batik 1 karung Rp.    25.000,00 Rp.            25.000,00
Spon Tebal 10 buah Rp.    60.000,00 Rp.          600.000,00
Spon Tipis 10 buah Rp.    30.000,00 Rp.          300.000,00
Lem 2 buah Rp.    65.000,00 Rp.          130.000,00
Benang Jahit 1 lusin Rp.      5.000,00 Rp.              5.000,00
Mika 10 m Rp.      5.000,00 Rp.            50.000,00
Mitasi 10 m Rp.      9.000,00 Rp.            90.000,00
Resleting 500 buah Rp.         500,00 Rp.          250.000,00
Kaca 500 buah Rp.         500,00 Rp.          250.000,00
Gantungan 1.000 buah Rp.         100,00 Rp.          100.000,00
Jumlah Rp.       1.800.000,00
  1. Proses Produksi

Proses pembuatan produk ini cukup mudah dan tidak terlalu rumit tetapi perlu ketelatenan agar produk yang dihasilkan rapi/ rajin sesuai standart produk. Adapun cara pembuatannya yaitu :

  1. Dompet

–          Mengukur spon tipis kemudian memotong sesuai dengan ukuran dompet.

–          Memilih perca batik yang ukurannya sama dengan ukuran dompet.

–          Kemudian potongan spon dan perca batik disatukan menggunakan mesin jahit.

–          Memberi fariasi bentuk dompet

–          Memberi mika, resleting, dan mitasi agar dompet produk Madece lebih menarik konsumen.

–          Dompet siap untuk diseleksi untuk dimasukkan ke gudang dan dipasarkan.

  1. Sandal

–          Memotong spon dengan alat cetak sandal baik spon tipis maupun spon tebal.

–          Memilih perca batik yang sesuai dengan potongan spon.

–          Menyatukan spon tipis dengan perca batik menggunakan mesin jahit.

–          Mengelem/ menyatukan hasil jahitan tersebut dengan spon tebal.

–          Sandal siap untuk diseleksi untuk dimasukkan ke gudang dan dipasarkan.

  1. Aksesoris

–          Memotong spon sesuai dengan ukuran aksesoris (gantungan kunci).

–          Memilih perca batik sesuai dengan potongan spon.

–          Menyatukan spon tipis dengan perca batik menggunakan mesin jahit.

–          Mengelem/ menyatukan hasil jahitan tersebut dengan spon tebal.

–          Hasil jahitan tersebut diberi gantungan.

–          Aksesoris siap untuk diseleksi untuk dimasukkan ke gudang dan dipasarkan.

  1. Kapasitas Produk

Kapasitas produk yang dihasilkan dalam 1 hari antara lain :

Dompet           : 10 biji

Sandal             : 20 biji

Aksesoris         : 50 biji

Pemasaran

  1. Sasaran Pemasaran

Konsumen sebagai pengguna produk yang menjadi target pemasaran adalah masyarakat, pedagang grosir, pedagang pasar, hotel-hotel dan tidak luput pula mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

  1. Strategi Pemasaran
    1. Produk

Produk ini merupakan produksi batik dengan berbagai macam bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat seperti sandal batik, dompet, pernak-pernik batik (gantungan kunci, kipas, tas dan souvenir lainnya)  yang disesuaikan dengan perkembangan mode serta mementingkan kualitas produk sehingga dapat menarik konsumen dan memiliki daya saing.

  1. Harga Jual

Harga jual produk ini dapat terjangkau disegala kalangan masyarakat. Harga jual sandal antara Rp. 10.000,00 – Rp. 12.000,00 tetapi harga grosir hanya Rp. 8.000,00. Harga jual dompet antara Rp. 9.000,00 – Rp. 12.000,00 tetapi harga grosir hanya Rp. 7.000,00. sedangkan harga jual aksesoris (gantungan kunci) Rp. 500,00 – Rp. 750,00 tetapi harga jual grosir hanya Rp. 350,00

  1. Promosi

Promosi produk ini dilakukan dengan mendatangi konsumen secara langsung yaitu dengan menawarkan produk tersebut ke toko-toko fashion dan pernak-pernik, grosir, pasar, hotel-hotel, bahkan membawa produk tersebut ke kampus UNNES.

  1. Sistem Pemasaran dan Distribusi

Pemasaran produk ini dimulai dari menitipkan di hotel-hotel, grosir dan pasar, serta membawa kekampus. Dan mencari relasi/ teman yang mau membawa/ dititipi ke kampung halaman.

  1. I.       METODE PELAKSANAAN

Kegiatan pelatihan dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Persiapan materi dan pematangan konsep kegiatan

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan pembekalan materi dari narasumber tentang pembuatan sandal dan aksesoris dari kain perca batik yang baik serta pematangan konsep kegiatan. Pematangan konsep kegiatan meliputi pembagian kerja anggota dan pembuatan time schedule kegiatan.

  1. Persiapan program

Dalam persiapan program ini akan dilakukan proses

  1. Perijinan
  2. Persiapan tempat
  3. Persiapan alat
  4. Pelaksanaan program

Pelaksanaan program wirausaha pembuatan sandal dan aksesoris di Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan akan dilaksanakan tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Tahap persiapan program

Tahap pertama merupakan tahap persiapan sosial. Pada tahap ini akan dipersiapkan satu kelompok Karang Taruna dan ketua Karang Taruna atau perwakilannya dari masing-masing RT di Kelurahan Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan sebagai pengelola dan pelaksana kegiatan membuat sandal dan aksesoris dari kain perca batik.

  1. Tahap perencanaan kegiatan

Kegiatan direncanakan bersama-sama dengan anggota Karang Taruna Kelurahan Krapyak Lor. Tahap kedua merupakan persiapan kader. Pada tahap ini kader yang telah dipersiapkan akan mengikuti kegiatan wirausaha membuat sandal dari kain perca batik.

  1. Tahap pelaksanaan rutin kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan satu minggu sekali selama lima bulan yang meliputi:

–          Diskusi

–          Pembekalan materi pembuatan sandal dan aksesoris

–          Pembekalan tambahan, misalnya pemasaran hasil produksi

–          Pemberian materi tentang cara pembuatan sandal dan aksesoris dari kain perca batik

–          Pemasaran hasil produksi

–          Pengevaluasian kegiatan produksi dan pemasaran

  1. Evaluasi

Setelah kegiatan pelatihan berakhir segera dilaksanakan evaluasi untuk mengetahui kemampuan keterampilan membuat sandal dan aksesoris dengan memanfaatkan kain perca batik, kemampuan membuat kemasan yang menarik serta kemampuan memasarkan hasil produksi (evaluasi formatif). Sedangkan untuk mengetahui dampak pelatihan menggunakan evaluasi dampak untuk dapat menjadikan kinerja lebih baik lagi serta hasil produksi yang unggul.

  1. Penyusunan laporan

Penyusunan laporan dilakukan setelah seluruh program selesai dilaksanakan.


  1. J.      JADWAL KEGIATAN

No.

Kegiatan

Bulan Ke

1

2

3

4

5

1. Persiapan materi dan pematangan konsep kegiatan  xxx
2. Persiapan Program:

  1. Perijinan
  2. Persiapan tempat
  3. Persiapan alat
 xxxxx
3. Pelaksanaan program:

  1. Persiapan sosial
  2. Perencanaan kegiatan
  3. Pelaksanaan kegiatan
 xxxx   xx    xxxx    xxxx    xx
4. Evaluasi      x    x xx
5. Pembuatan Laporan         xx
6. Perbaikan Laporan            xx
  1. K.    RANCANGAN BIAYA

Keuangan

  1. Biaya untuk memulai bisnis

Kebutuhan untuk memulai usaha adalah sebesar Rp. 7.000.000,00. dana tersebut dialokasikan untuk kebutuhan pengeluaran awal produksi. Berikut ini adalah rincian kebutuhan awal yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha pada awal produksi kerajinan dari bahan kain perca batik.

Investasi yang diperlukan Biaya Produksi

INVESTASI AWAL

No.

Nama Barang

Jumlah

Harga Satuan

Harga

1. Alat Cetak Sandal 1 buah Rp. 3.000.000,00 Rp.     3.000.000,00
2. Pisau 5 buah Rp.      10.000,00 Rp.         50 .000,00
3. Sunglon 1 set Rp.    200.000,00 Rp.        200.000,00
4. Sconet Jahitan 1 set Rp.      70.000,00 Rp.          70.000,00
5. Mesin Jahit 1 buah Rp.    500.000,00 Rp.        500.000,00
6. Gunting 5 buah Rp.      15.000,00 Rp.          75.000,00
7. Jarum Jahit 1 set Rp.        5.000,00 Rp.            5.000,00
Total kebutuhan peralatan Rp.     3.900.000,00
Total investasi awal yang dibutuhkan Rp.     3.900.000,00

MODAL KERJA

No.

Nama Barang

Jumlah

Harga Satuan

Harga

1. Perca Batik 1 karung Rp.    25.000,00 Rp.            25.000,00
2. Spon Tebal 10 buah Rp.    60.000,00 Rp.          600.000,00
3. Spon Tipis 10 buah Rp.    30.000,00 Rp.          300.000,00
4. Lem 2 buah Rp.    65.000,00 Rp.          130.000,00
5. Benang Jahit 1 lusin Rp.      5.000,00 Rp.              5.000,00
6. Mika 10 m Rp.      5.000,00 Rp.            50.000,00
7. Mitasi 10 m Rp.      9.000,00 Rp.            90.000,00
8. Resleting 500 buah Rp.         500,00 Rp.          250.000,00
9. Kaca 500 buah Rp.         500,00 Rp.          250.000,00
10. Gantungan 1.000 buah Rp.         100,00 Rp.          100.000,00
Total kebutuhan biaya untuk pembelian bahan Rp.       1.800.000,00
Total biaya bahan pokok dan pendukung Rp.       5.700.000,00
Biaya Transportasi Rp.            50.000,00
Biaya Listrik Rp.            50.000,00
Biaya Gaji Karyawan Rp.       1.200.000,00
Total Modal Awal Yang dibutuhkan Rp.       7.000.000,00

Kebutuhan modal awal untuk memulai usaha sebesar Rp. 7.000.000,00

  1. Proyeksi rugi/ laba

No.

Pendapatan

Total

1. Penjualan Sandal 20 x Rp. 8.000 x 26 hari Rp.        4.160.000,00
2. Penjualan Dompet 10 x Rp. 7.000 x 26 hari Rp.        1.820.000,00
3. Penjualan Aksesoris 50 x Rp. 350 x 26 hari Rp.           455.000,00
Total Penjualan Rp.        6.435.000,00
Total Pendapatan Rp.       6.435.000,00

Biaya Produksi

Total

1. Biaya Variabel (Variabel Cost) Rp.       1.800.000,00
Biaya Bahan Baku dan Bahan Pendukung Rp.       1.800.000,00
2. Biaya Tetap (Fixed Cost) Rp.       1.300.000,00
Biaya Transportasi Rp.            50.000,00
Biaya Listrik Rp.            50.000,00
Biaya Gaji Karyawan Rp.       1.200.000,00
Total Biaya Tetap Rp.       1.300.000,00
Total Biaya Produksi Rp.       3.100.000,00
Laba Rp.       3.335.000,00
  1. Proyeksi Break Even Poin (BEP)

Sandal  =      VC         =          1.800.000     = 225/ bulan = 78/ hari

Harga Jual                      8000

Dompet  =      VC       =          1.800.000     = 257/ bulan = 9/ hari

Harga Jual                      7000

Aksesoris  =      VC     =          1.800.000     = 5.143/ bulan = 172/ hari

Harga Jual                 350

  1. Proyeksi Profit/ Benefit Of Coast Ratio (BC RATIO)
Penjualan

Total

1. Pendapatan Penjualan Rp.        6.435.000,00
Total Pendapatan Rp.        6.435.000,00
Biaya Produksi

Total

1. Biaya variabel
Biaya Bahan Baku dan Bahan Pendukung Rp.       1.800.000,00
Total Biaya Variabel Rp.       1.800.000,00
2. Biaya Tetap
Biaya Transportasi Rp.             50.000,00
Biaya Listrik Rp.             50.000,00
Biaya Gaji Karyawan Rp.        1.200.000,00
Total Biaya Tetap Rp.        1.300.000,00
Total Biaya Produksi Rp.        3.100.000,00
B/C RATIO = Pendapatan Penjualan/ Biaya Produksi                   Rp. 2,08

Usaha produk ini layak dijalankan karena B/C RATIO > 1, yaitu 1,801

  1. L.     DAFTAR PUSTAKA

Bukhori Mochtar, 1994, Pendidikan Dalam Pembangunan, IKIP Muhamadiyah: Jakarta

Hatimah Ihat, 2007, Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan, Depdiknas: Jakarta

Hikmat Harry, 2001, Strategi Pemberdayaan Masyarakat, Humaniora Utama: Bandung.

Jalal Fasli, 2001, Manajemen Pendidikan Non Formal, Depdiknas. Jakarta

Kindervatter Suzanne, 1979, Non Formal educatin as an Empowering Process. Center International Massachussets. Amsherts

Moekijat, 1976, Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Mandar Maju: Jakarta

Simmamora, 1995, Manajemen Sumber Daya Manusia STIE YKPN: Yogyakarta

Usman Sunyoto, 2002, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Zubaedi, 2005, Pendidikan Berbasis Kemasyarakatan, Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Lampiran – lampiran

Cara Membuat Sandal dan Aksesoris dari Kain Perca Batik

 

Alat :                           Bahan :

Pisau Perca Batik Mitasi
Sunglon Spon Tebal Resleting
Sconet Jahitan Spon Tipis Kaca
Mesin Jahit Lem Gantungan
Gunting Benang Jahit
Jarum Jahit Mika

Proses pembuatan Sandal dan Aksesoris cukup mudah dan tidak terlalu rumit tetapi perlu ketelatenan agar produk yang dihasilkan rapi/ rajin sesuai standart produk. Adapun cara pembuatannya yaitu :

  1. Dompet

–          Mengukur spon tipis kemudian memotong sesuai dengan ukuran dompet.

–          Memilih perca batik yang ukurannya sama dengan ukuran dompet.

–          Kemudian potongan spon dan perca batik disatukan menggunakan mesin jahit.

–          Memberi fariasi bentuk dompet

–          Memberi mika, resleting, dan mitasi agar dompet produk Madece lebih menarik konsumen.

–          Dompet produk Madece siap untuk diseleksi untuk dimasukkan ke gudang dan dipasarkan.

  1. Sandal

–          Memotong spon dengan alat cetak sandal baik spon tipis maupun spon tebal.

–          Memilih perca batik yang sesuai dengan potongan spon.

–          Menyatukan spon tipis dengan perca batik menggunakan mesin jahit.

–          Mengelem/ menyatukan hasil jahitan tersebut dengan spon tebal.

–          Sandal produk Madece siap untuk diseleksi untuk dimasukkan ke gudang dan dipasarkan.

  1. Aksesoris

–          Memotong spon sesuai dengan ukuran aksesoris (gantungan kunci).

–          Memilih perca batik sesuai dengan potongan spon.

–          Menyatukan spon tipis dengan perca batik menggunakan mesin jahit.

–          Mengelem/ menyatukan hasil jahitan tersebut dengan spon tebal.

–          Hasil jahitan tersebut diberi gantungan.

–          Aksesoris produk Madece siap untuk diseleksi untuk dimasukkan ke gudang dan dipasarkan.