Latest Entries »

PROSES PERUBAHAN SOSIAL

PERILAKU MASYARAKAT PAGUYANGAN DALAM PROSES PERUBAHAN SOSIAL

 

Makalah ini di buat guna memenuhi tugas Perubahan Sosial

Dosen Pengampu        : Tri Suminar

Disusun oleh:

BINTA GUNAWAN                        1201409035

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat turut mempengaruhi kehidupan masyarakat. Perubahan itu dapat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, tingkah laku termasuk pada hidupnya. Didalam masyarakat akan terlihat dengan jelas masyarakat yang mendapat pengaruh perubahan sosial budaya dan masyarakat yang tidak mendapat pengaruh. Berdasarkan hal tersebut, perlulah kiranya menguraikan perilaku masyarakat dalam perubahan sosial budaya di era globalisasi.

1.2  Rumusan Masalah

1)      Bagaimanakah respon masyarakat Paguyangan terhadap perubahan sosial budaya?

2)      Apa dampak perubahan sosial budaya dalam masyarakat Paguyangan?

3)      Bagaimana sikap kritis terhadap pengaruh perubahan sosial budaya tersebut?

1.3 Tujuan

1)      Memberi contoh perilaku masyarakat sebagai akibat adanya perubahan social budaya

2)      Mengembangkan sikap kritis terhadap pengaruh perubahan social budaya.

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

2.1 Respon Masyarakat Paguyangan terhadap perubahan social budaya.

Respon masyarakat terhadap perubahan social dan budaya yang terjadi berbeda-beda sesuai kedalaman pengaruh perubahan tersebut. Perubahan yang tidak mempengaruhi nilai-nilai dan norma yang sudah ada  dalam masyarakat masih bisa diterima oleh masyarakat tersebut. Akan tetapi, perubahan yang telah mengakibatkan terjadinya perubahan nilai-nilai dan norma yang telah berlangsung dalam masyarakat mungkin akan mengakibatkan gejolak. Masyarakat akan meolaknya dengan berbagai cara.

Ada masyarakat yang mudah menerima terjadinya perubahan social budaya, namun ada pula yang sulit menerimanya. Masyarakat yang sukar menerima perubahan biasanya masih memiliki pola pikir yang tradisional. Pola pikir masyarakat yang tradisional mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

a)      Bersifat sedehana

b)      Memiliki daya guna dan produktifitas rendah

c)      Bersifat tetap atau monoton

d)     Memiliki sifat irasional, yaitu tidak berdasarkan pikiran dalam hal tertentu.

Selain itu, masyarakat tradisional cendrung mencurigai budaya asing yang masuk ke lingkungannya. Namun demikian, ada pula unsure budaya asing yang mereka terima. Hal itu disebabkan unsur budaya asing tersebut membawa kemudahan bagi kehidupannya.

Pada umumnya, unsur-unsur budaya yang membawa perubahan social budaya dan mudah diterima masyarakat jika :

a)      Unsur budaya tersebut membawa manfaat yang besar, seperti hand phone.

b)      Peralatan yang mudah dipakai dan memiliki manfaat, seperti bollpoint yang digunakan untuk tulis menulis merupakan unsur budaya barat.

c)      Unsure kebudayaan yang mudah menyesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur tersebut, misalnya mesin perontok padi, bermanfaat dan mudah dioperasikan.

Sementara itu, unsur budaya yang sulit diterima masyarakat adalah sebagai berkut :

a)      Unsur kebudayaan yang menyangkut system kepercayaan, seperti ideology dan falsafah hidup.

b)      Unsure kebudayaan yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi.

Kebalikan dari masyarakat tradisional adalah masyarakat modern. Masyarakat modern telah mengalami perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pola pikir masyarakat modern mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

a)      Bersifat dinamis atau selalu berubah mengikuti perkembangan zaman.

b)      Berdasarkan akal pikiran manusia dan senantiasa mengembangkan efisiensi dan efektivitas.

c)      Tidak mengandalkan attau mengutamakan kebiasaan atau tradisi masyarakat.

 2.2 Dampak perubahan social budaya dalam masyarakat Paguyangan

Perubahan social dan budaya pasti juga akan membawa perubahan dalam masyarakat, namun yang dharapkan perubahan itu tetap dapat menciptakan masyarakat yang serasi dan harmonis. Keserasian yang dimaksud adalah tetap berfungsinya lembaga-lembaga masyarakat yang ada. Dengan demikian, individu merasakan adanya ketentraman karena tidak ada pertentangan dalam nilai-nilai dan norma masyarakat.

Akan tetapi, harus tetap diingat bahwa perubahan social ddan budaya membawa dampak positif dan negative terhadap kehidupan. Kita harus waspada terhadap hal-hal yang menimbulkan perubahan yang mengarah ke hal negative. Misalnya, terhadap pengaruh budaya barat. Dunia barat yyang identik dengan kemajuan dan modern tidak selalu membawa perubahan kea rah positif, tetapi tidak pula selalu membawa pengaruh negative.

Berikut ini adalah dampak positif dan negative perubahan social budaya.

1)   Dampak positif perubahan social budaya

Dampak positif perubahan social budaya, antara lain dapat dilihat pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan tata nilai dan sikap, serta meningkatnya kehidupan ke arah yang lebih baik  lagi.

  • IPTEK

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mampu mendorong masyarakat untuk makin maju. Dengan demikian, tingkat kehidupan masyarakat diharapkan menjadi lebih baik lagi.

  • Perubahan tata nilai dan sikap

Dengan perubahan social budaya, tata nilai dan sikap masyarakat pun cenderung mengalami perubahan, yaitu dari berpikiran tidak rasional kearah rasional. Misalnya, perubahan pola pikir  bahwa banyak anak banyak rezeki mulai berubah ke keluarga kecil bahagia sejahtera.

  • Meningkatnya kehidupan ke arah yang lebih baik

Kehidupan masyarakat modern membuka kesempatan luas kepada pekerja bidang jasa bidang ini banyak menyerap tenaga kerja. Akibatnya, banyak tenaga kerja yang terserap disektor tersebut sehingga kehidupan masyarakat cenderung berubah ke arah perbaikan.

2)      Dampak negative perubahan social budaya

Dampakk negative perubahan social budaya, antara lain pola hidup konsumtif. Sikap individualistic, munculnya kesenjangan social, dan gaya hidup kebarat-baratan.

  • Pola hidup konsumtif

Pola hidup konsumtif makin berkembang dan marak karena didukung oleh media masa yang juga makin berkembang. Televise menjadi media masa yang paliing ampuh dalam menyuburkan pola hidup konsumtif. Mulai iklan, produk-produk sebuah perusahaan dikenal. Makin banyak iklan muncul di media masa akan makin cepat dikenal masyarakat. Bnyak iklan akan mendorong kemampuan daya beli masyarakat. Akibatnya para penguusaha akan meningkatkan produksi perusahaannya. Membanjirnya barang-barang kebutuhan dengan promosi yang memikat dapat membuat masyarakat makin konsumtif.

Untuk mengindari agar tidak terjebak pada pola hidup konsumtif maka kita harus mampu menentukan skala prioritas dari kebutuhan kita. Belilah barang-barang yang betul-betul kita perlukan. Pola hidup konsumtif merupakan pola hidup yang boros karena suka mebelanjakan uang untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan.

  • Sikap individualistic

Persaingan hidup yang semakin keras dan ketat membuat manusia makin tidak peduli orang lain. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan kehidupannya. Orang-orang seperti ini biasanya berperinsip asal tidak menyusahkan dan merugikan orang lain saja. Kehidupan mereka hanya terfokus pada cara untuk memenuuhi segala kebutuhannya saja.

Sikap hidup bergotong royong dan tolong menolong lebih bersifat fungisional misalnya menyumbang untuk panti asuhan atau bencana alam. Sikap hidup individualistic dapat di rasakan di kota-kota besar. Hal itu disimbolkan dengan diibangunnya ttembok-tembok yang tinggi untuk memagari rumahnya.

  • Munculnya kesenjangan social

Perubahan social budaya biasanya dirasakan oleh masyarakat tertentu saja, misalnya masyarakat perkotaan. Masyarakat yang mampu menikmati perubahan akan memiliki kemampuan social ekonomi yang lebih baik daripada tidak. Hal itulah yang menyebabkan kesenjangan social dalam masyarakat.

  • Sikap hidup kebarat-baratan

Sikap hidup kebarat-baratan merupakan cara hidup yang meniru pola hidup orang barat(Eropa dan Amerika) tanpa mengiddahkan budaya timur yang seharusnya masih dijunjung tinggi.

2.3 Sikap kritis terhadap pengaruh perubahan social budaya

Perubahan social budaya tidak hanya disebabkan factor dari dalam, tetapi juga factor dari luar termasuk dari Negara asing. Perubahan tidak selamanya membawa kearah kebaikan atau bersifat positif. Perubahan juga bersifat negative.

Kita harus mempunyai sikap tegas menolak terhadap perubahan yang mengarah ke hal-hal yang negative, kita dapat mengambil pengaruh positifnya dengan tetap berpedoman pada nilai dan norma masyarakat.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan terhadap pengaruh dari luar, antara lain sebagai berikut :

  1. Mengambil pengaruh positif budaya barat, seperti tepat waktu, belajar keras, dan rajin belajar berbagai ilmu pengetahuan.
  2. Membentengi diri dengan ilmu agama.
  3. Mengenal dan mencintai kebudayaan sendiri serta berusaha melestarikannya.

BAB III

 

1.3  Simpulan

  • Respon masyarakat Paguyangan terhadap budaya sangat tergantung kemampuan masyarakat itu sendiri dalam menanggapi perubahan.
  • Unsure kebudayaan asing yang membawa manfaat besar bagi manusia mudah di terima masyarakat.
  • Unsure kebudayaan asing yang menyangkut unsure kepercayaan sulit diterima masyarakat.
  • Perubahan kebudayaan menimbulkan akibat  positif dan negative.
  • Akibat positif perubahan social budaya antara lain, perubahan tata nilai dan sikap, ilmu pengetahuan dan teknologi serta tingkat kehidupan yang lebih baik.
  • Akibat negative perubahan social budaya, antara lain sikap individu, hidup konsumtif, gaya hidup kebarat-baratan, dan munculnya kesenjangan social.
  • Kita harus bersikap tegas menolak unsure budaya baratt yang negative.

1.4  Saran

Perlu diketahui bahwa perubahan social budaya karena globalisasi itu tidak selamanya buruk dan tidak selamanya baik. Kita harus dapat membentengi diri kita dengan iman dan ilmu pengetahuan agar dapat mengambil pengaruh baik darii perubahan social budaya itu.

SOSIOLOGI PEMBANGUNAN

Lembaga Pemerintah Jepara Dalam Memajukan  Masyarakat

Disusun untuk melengkapi tugas akhir sosiologi pembangunan

Dosen pengampu : Pak Edy Sungkowo

Mata kuliah : Sosiologi Pembangunan

DISUSUN OLEH

BINTA GUNAWAN

1201410035

 

 

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS  ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGRI SEMARANG

2011

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. 1.     LATAR BELAKANG

Di era globalisasi ini kita di tuntut untuk mampu mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah, beberapa asumsi mengatakan apabila kita tidak mengikuti perkembangan zaman, keadaan kita akan tertinggal oleh masyarakat luar atau dengan kata lain ketinggalan zaman. Oleh sebab itu masyarakat sekitar khususnya warga jepara mengikuti perubahan yang terjadi saat ini, bupati jepara berusaha agar mampu merubah daerahnya maju seperti daerah lainnya.

Dengan mengusung program PNPM-P2KP, berharap program ini mampu mengimbangi beberapa persaingan yang terjadi saat ini di beberapa daerah sehingga kemajuan daerah bisa diimbangi scara baik. Kemiskinan dan kurangnya sadar pendidikan sebagai dasar utama yang memicu permasalahan di daerah Jepara. Mungkin tidak hanya di Jepara saja tetapi di beberapa daerah pasti mengalami hal serupa. Apalagi tingkat kemiskinan di Indonesia begitu tinggi dan kesadaran untuk merubah pola hidup begitu susah karena angka ketergantungan di Indonesia sangat besar dan susah apabila di atasi. Di sinilah kita harus mampu merubah karakter orang Indonesia agar jalan pemikiran mereka lebih luas sehingga angka ketergantungan mampu di atasi dan diminimalisir.

Usaha-usaha di beberapa daerah sudah berjalan sesuai dengan program yang sudah dicanangkan, tujuannya agar mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat pada daerah masing-masing. Program PNPM-P2KP ini di harapkan mampu mengangkat drajat taraf hidup masyarakat sehingga kemajuan terus berkembang seiring meningkatnya perkembangan di era globalisasi ini.

Dicanangkannya program PNPM-P2KP oleh pemerintah  di harapkan mampu merubah masyarakat terutama masyarakat yang tertinggal, melalui pemerintah daerah, program ini harus di jalankan di setiap tempat. Sebisa mungkin harus dimaksimalkan pengelolaannya agar kita mampu meminimalisir angka ketergantungan di Indonesia.

  1. 2.     TUJUAN
    1. Mampu menciptakan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur.
    2. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia dan memajukan rakyat Indonesia agar tidak tertinggal dengan dunia luar.
    3. Adanya program ini sebagai wadah aspirasi bagi masyarakat untuk mengembangkan bakat yang dimiliki sesuai dengan ketrampilan yang di kuasainya.

BAB 2

PEMBAHASAN

  1. A.      LEMBAGA PEMERINTAH JEPARA DALAM MEMAJUKAN  MASYARAKAT

Pada momen yang spesial, yaitu 19 April lalu, saya memperoleh kesempatan mengikuti acara khusus bincang-bincang antara Bupati Jepara, H. Hendro Martojo dengan Camat Jepara, SKPD Kabupaten Jepara, Komandan Kodim Jepara, Korkab Jepara dan perwakilan BKM di ruang kerja Camat Jepara. Peristiwa tersebut bersamaan dengan acara Bazar PJM Pronangkis BKM-BKM se-Kecamatan Jepara yang merupakan rangkaian terakhir dari serangkaian kegiatan Bazar PJM Pronangkis di Kabupaten Jepara.

Pada kesempatan itu, Bupati Jepara menyampaikan pandangannya seputar problem kemiskinan dan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Jepara. Jepara, sebagai kabupaten di semenanjung Muria, dikenal sebagai daerah industri meubel dan ukir-ukiran. Hampir sebagian besar penduduknya bergantung dari industri ini. Di samping itu, terdapat pula potensi hasil laut, yang masih perlu dikembangkan dan industri kerajinan lainnya seperti Monel, Kain Tenun dan lainnya.

Industri meubel dan ukir ini mampu mengangkat ekonomi masyarakat Jepara. Sejak tahun 1999, Kabupaten Jepara memperoleh program P2KP. Hingga tahun 2006, Jepara berhasil membentuk 45 BKM, dan di tahun 2007 menjadi 103 BKM. Tentunya tidak semua BKM berjalan lancar dan sehat. Semua itu memerlukan proses yang harus dilalui oleh masyarakat agar dapat terurai landasan berpijak demi terwujudnya bangunan cita-cita yang diidam-idamkan.

PNPM-P2KP diharapkan dapat menjadi pemicu (trigger) keberlangsungan peningkatan kesadaran publik akan arti penting pengentasan kemiskinan. Walaupun secara umum kondisi perekonomian dinilai cukup tinggi, Jepara masih menyimpan problem kemiskinan yang menjadi PR.

Di sela-sela peresmian Bazaar PJM Pronangkis dan Remboeg Kampoeng BKM Se-Kecamatan Jepara, diutarakan bahwa sharing pemerintah kabupaten dalam PNPM-P2KP mencapai sekitar Rp 1,25 miliar. Angka tersebut mungkin masih belum sesuai harapan, namun sudah cukup baik untuk mendukung PNPM-P2KP.

Menurut Bupati Jepara, ciri-ciri wilayah yang mengalami kemiskinan adalah lingkungan yang belum sesuai standar kelayakan sebuah permukiman, tingkat pendidikan yang masih rendah, kondisi kesehatan yang rendah, tingkat pendapatan ekonomi rendah dan yang paling mendasar adalah kesadaran akan perubahan juga masih rendah. “Warga miskin, jika diharapkan keswadayaan, itu tidak mungkin. Karena, untuk hidup sehari-hari saja masih mengalami kesulitan,” kata bupati.

Oleh karena itu, lanjut dia, PNPM datang untuk membantu menata lingkungan dan meningkatkan pembelajaran bagaimana menambah pendapatan keluarga, sehingga yang miskin dapat terangkat secara bertahap. Selain itu Pemkab Jepara juga telah melakukan terobosan pengobatan gratis dan pendidikan dasar gratis bagi warga kurang mampu. “Sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan dan pendidikan dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup keluarga,” tegas Bupati Jepara.

Senada dengan Bupati Jepara, BKM menyampaikan bahwa masalah utama yang dihadapi adalah terbatasnya akses bagi keluarga miskin dalam menikmati layanan kesehatan dan pendidikan dasar. Hal tersebut dibuktikan saat penyelenggaraan Pemetaan Swadaya (PS) ditemukan potret masalah yang krusial dan urgensi untuk segera ditangani yang selama ini hampir tidak pernah diketahui oleh masyarakat itu sendiri.

“Namun, teorinya tidak mudah diterapkan. Dana yang seharusnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga malah untuk beli HP,” kata bupati. Budaya konsumerisme dan hedonisme di era informasi kini sudah cukup kuat menancap di setiap sendi kehidupan masyarakat. “Bahkan, masyarakat miskin sekalipun,” tandas bupati.

Pernyataan Bupati Jepara itu bukan tanpa dasar. Budaya konsumerisme dan hedonisme merupakan indikator hambatan sosial dalam melangkah menuju perubahan sosial. Budaya konsumerisme dan hedonisme harus dikikis dengan strategi pembangunan karakter dan kepribadian masyarakat. Melalui model pemberdayaan ala PNPM-P2KP masyarakat diajak untuk menelaah dan menggali serta menganalisa masalah yang ada dan potensi yang dapat dikembangkan untuk memajukan harkat dan martabat masyarakat.

Ternyata dampak yang terlihat adalah masyarakat dapat menilai sendiri apa masalahnya, kebutuhannya dan strategi yang akan diterapkan secara bersama-sama, tanpa tekanan dan kepentingan dari pihak luar. Model pembelajaran ini diakui cukup ampuh. Misalnya saja, saat menentukan kriteria kemiskinan di dalam Forum Refleksi Kemiskinan. Warga, yang secara ekonomi tergolong mampu, akan malu untuk menyatakan dirinya miskin, karena melihat di sekelilingnya ternyata masih banyak dijumpai orang-orang yang hidup dalam keprihatinan. Rasa malu untuk mengaku sebagai orang miskin dapat menorehkan semangat kepedulian dan kejujuran serta keadilan yang sebenarnya.

Bagi seorang fasilitator, situasi seperti tersebut di atas cukup menggembirakan seiring dengan tantangan yang telah ditaklukkan. Jika dijumpai warga masyarakat yang mampu — atau dalam bahasa P2KP adalah masyarakat berdaya — mau untuk berbagi dengan sesamanya yang belum berdaya, baik secara ekonomi, pemikiran maupun tindakan nyata. Sungguh sebuah anugerah yang luar biasa. Karena, sikap tersebut merupakan modal sosial yang harus terus dipupuk, terutama bagi warga miskin itu sendiri jika telah terangkat, agar dapat menularkan semangat yang sama.

Dilihat dari partisipasi dan gairah BKM dalam menyukseskan Bazaar PJM Pronangkis dapat diartikan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan kompetisi secara positif sudah tertanam di hatinya. Mereka berharap, jika hasil karya BKM yang merupakan cerminan karya masyarakat dapat disaksikan oleh masyarakat lain secara luas, dan tentunya oleh Bupati Jepara sebagai figur pemimpin dapat menjadi inspirasi bagi yang lain untuk menggerakkan lingkungannya walau dengan skala kecil.

Dari sisi pemanfaatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), masyarakat sudah sedemikian sadar untuk mendahulukan kepentingan umum yang mendesak dibandingkan kepentingan sendiri, walaupun sama-sama mendesak. Dibuktikan dengan berkembangnya nilai swadaya masyarakat dari rencananya semula. Selain itu ancaman penyalahgunaan dana BLM oleh segelintir kelompok masyarakat belum terbukti. Justru masyarakat sebenarnya lebih jujur dan akuntabel dalam pemanfaatannya. Dan, yang penting adalah dapat menggerakkan partisipasi publik dalam pengambilan keputusan yang transparan dengan benar dan maksimal.

Motivasi Kartini dengan emansipasinya mengangkat harkat dan martabat kaumnya sangat erat kaitannya dengan penanggulangan kemiskinan secara lebih luas. Jepara memiliki jiwa Kartini yang harus dipupuk dan diperjuangkan demi setumpuk harapan kesejahteraan bersama. Yakin dan berusaha sampai habis gelap terbitlah terang. (Subkhan Fathoni, Faskel Ekonomi Tim 69 PNPM-P2KP Korkab Jepara, KMW Provinsi Jateng, PNPM Mandiri Perkotaan.

Sebelum di canangkannya program PNPM-P2KP, masyarakat daerah jepara kurang mengenal dunia luar, walaupun jepara dikenal dengan central ukir, pengrajin kain dan meubel tetapi tetap saja derah ini masih ketinggalan jau untuk mencapai Upah Minimum Regional  dengan masyarakat yang lebih maju, ketertinggalan ini menjadi semangat tersendiri bagi pemerintah kota jepara untuk mampu mensetarakan Upah Minimum Regional dengan kota lainnya yang memiliki UMR lebih tinggi.

Mencoba dengan cara di canangkannya program PNPM-P2KP ini, bupati mengharapkan agar warganya mampu meningkatkan UMR sehingga angka taraf hidup warganya menjadi lebih makmur.

  1. PERUBAHAN SEBELUM DAN SESUDAH ADANYA PROGRAM INI

Perubahan yang terjadi setelah di berlakukanya program ini antara lain:

  1. Mengangkat taraf  hidup masyarakat jepara secara continu
  2. Pemerintah mampu menambah fasilitas bagi masyarakat seperti didirikannya sekolah gratis, dan kesehatan gratis demi menunjang kemakmuran masyarakatnya.
  3. Mampu memperluas promosi seni ukir, meubel dan kain tenun hingga ke daerah lain yang sebelumnya belum pernah menjadi daerah sasaran untuk mempromosikan kerajinan tersebut.
  4.  Meningkatnya pesanan terhadap produk ukir dari jepara
  5. Meningkatkan hasil home industry menjadi berkembang

Sebelum di berikan program PNPM-P2KP  hal tersebut diatas begitu sulit untuk di capai bahkan membutuhkan tenaga banyak agar mampu menycapai hasil semaksimal mungkin, tetapi dengan di berlakukannya program tersebut mampu memberikan hasil terbaik bagi perkembangan bahkan pertumbuhan masyarakat Jepara.

Sedikit gambaran mengenai kota Jepara saat belum mengenal program PNPM-P2KP yaitu kota yang kurang dikenal masyarakat luar tetapi sekarang menjadi kota yang sudah dikenal luar pulau Jawa karena terkenal dengan ukirannya. Bahkan tidak hanya itu saja, kota Jepara sudah mampu menembus produk ke luar negri. Itulah yang menjadikan kota Jepara ini mampu meningkatkan Upah Minimum Regional daerah tersebut.

kul

kamus jowo – indonesia

Katrangan  (Keterangan)

(ta) tembunga aran = kata benda

(tg) tembung ganti = kata ganti

(tk) tembung kriya = kata kerja

(tkr) tembung katrangan = kata keadaan

(tpw) tembung panguwuh = kata seru

(tpr) tembung pangarep = kata depan

(tpy) tembung panyambung = kata sambung

(ts) tembung sipat = kata sifat

(tsd) tembung sandhangan = kata sandang

(tw) tembung wilangan = kata bilangan

A

abab (ta)        hawa mulut

abang (ts)        merah

aba-aba (ta)        aba-aba

abar (tk)        menguap (zat cair)

abuh (ts)        bengkak

abrit ; abrit (ts)        merah

abyor (ts)        bertebaran memenuhi (mis. bintang bertebaran memenuhi langit)

acung (tk)        menunjuk ke atas/ unjuk jari

ada-ada (ta)        inisiatif

adang (tk)        menanak nasi

adas (ta)        nama tanaman

adi (ts)        bernilai tinggi; mempunyai kelebihan

adil (ts)        adil

adhang (tk)        menunggu di tempat yang akan dilewati

adhem (ts)        dingin

adhep (tk)        hadap

adhi (ta)        adik

adoh (tkr)        jauh

adol (tk)        menjual

adu (tk)        adu

adus (tk)        mandi

agama (ta)        besar; agung

agul-agul (ta)        andalan; jagoan

agung (ta)        api

agem (tk)        pakai

ageman (ta)        pakaian

ageng (ts)        besar

agni (ta)        api

aja (tpw)        jangan

ajag (ta)        anjing hutan

ajak (ts)        ajak

ajang (ta)        wadah

ajar (tk)        ajar, belajar

ajeg (tkr)        tetap

ajeng (tsb)        akan

aji (ta)        nilai; harga

ajur (ts)        hancur

akas (tkr)        alon

akas (ts)        perai, keras (untuk nasi)

ala (ts)        buruk

alangan (ta)        halangan

alas (ta)        hutan

alem (tk)        puji

aleman (ts)        manja

alesan (ta)        alasan

aling-aling (tk)        bersembunyi di balik

alis (ta)        alis

alok (tk)        berkata

alu (ta)        antan

alum (ts)        layu

alun-alun (ta)        lapangan di tengah kota

alus (ts)        halus

aluwung (tpb)        lebih baik

ama (ta)        hama

aman (ts)        aman

amarga (tpy)        karena

amargi; amargi (tpy)        karena

amba (ts)        lebar/luas

ambah (tk)        jejak/jelajah/datangi

ambal (tk)        ulang

ambar (tk)        tersebar (untuk bau harum)

ambeg (ts)        berwatak

ambèn (ta)        balai-balai

ambèr (tkr)        meluap (air)

ambet; ambet (ta)        bau

amblas (tk)        lenyap seketika

ables (tk)        melesak

ambrol (tk)        runtuh

ambruk (tk)        tumbang/roboh

ambu (ta)        bau

ambung (tk)        cium

ambus (tk)        endus

mbyar (tk)        berserakan

ambyuk (tk)        menjatuhkan diri

ambyur (tk)        mencemplungkan diri ke dalam air

amèk (tk)        mencari

amem (ts)        melempem

amem (ts)        sunyi

amis (ts)        anyir

ampas (ta)        ampas

ampek (tkr)        sulit bernafas; sesak (untuk dada)

ampil; ampil (tk)        pinjam

ampak-ampak (ta)        kepulan debu

amping-amping (tk) berlindung di balik sesuatu

ampo (ta)        nama jajanan terbuat dari tanah jenis tertentu

amrih (tpy)        agar, supaya

anak (ta)        anak

anda (ta)        tangga

andaka (ta)        banteng

andika (tg)        anda

ancang-ancang (ta) persiapan, mengambil kuda-kuda

ancas (ta)        tujuan

ancur (ta)        air raksa

ancik (tk)        menginjak

ancer-ancer (ta)        prakiraan; ancar-ancar

andhap (ta)        bagian bawah/rendah

andhang (ta)        tangga kayu berkaki empat

andheng-andheng (ta) tahi lalat

andhong (ta)        sejenis kereta kuda

andum (tk)        berbagi

angen-angen (ta)        pemikiran/ingatan

anget (ts)        hangat

angga (ta)        tubuh

anggak (ts)        sombong

anggara (tg)        selasa

anggarbini (tk, ts)        hamil

anggep (tk)        anggap

angger (tsb)        asalkan

angger-angger (ta)        peraturan

anggur (ta)        anggur

anggon (tk)        tempat

angin (ta)        angin

angin-angin (tk)        mencari udara

angkah (ta)        maksud

angkara (ta)        angkara

angker (ts)        angker

angler (tkr)        nyenyak

angluh (tkr)        dengan penuh rasa tidak berdaya mengahadapi situasi yang ada

angon (tk)        mengembala

angop (tk)        menguap

angsal (tk)        dapat

angslé (ta)        nama minuman

angslup (tk)        tenggelam

angur (tsb)        masih lebih baik

angus (ta)        angus

anjlok (tk)        turun tiba-tiba

anjok (tpr)        tiba di

anèh (ts, tkr)          aneh

anèm (ts)          muda

anom (ts)          muda

antawecana (ta)       Penggambaran sinopsis cerita, adegan, tokoh pagelaran wayangyang

disampaikan oleh dalang dengan cara dilagukan

antem (tk)        pukul/hantam

anteng (tk,ts)        tenang

antop (tk)        bersendawa

antuk (tk)        dapat

anyang (tk)        tawar (harga)

anyang-anyangen (ts)        merasa seperti ingin kencing

anyar (ts)        baru

anyel (ts)        jengkel

anyep (ts)        tawar

anyep (ts)        dingin (tubuh atau bagian tubuh)

anyes (ts)        dingin (benda)

apa (tg)       apa

apal (ts))        hafal

apem (ta)        apam

apes (tk)        sial

apek (ts)        bau tidak sedap yang berasal dari barang usang atau kamar yang lama

tertutup

api-api (tk)       pura-pura

apik (ts)        baik

apu (ta)        kapur sirih;

apura (ta)        maaf

apus (ta)        sejenis bambu

apus (tk)        bohong

ara-ara (ta)        padang

arah (ta)        arah

aran (ta)        nama

arang (tkr)        jarang

arang-arang (ts)        jarang

aren (ta)        enau

areng (ta)        arang

arep (tsb)        hendak

arga (ta)        gunung

ari (tg)        adik

ari-ari (ta)        tali pusat

aris (tkr)        lugas

arit (ta)        sabit

arsa (tkr)        akan ; depan

arta (ta)        uang

aruh-aruh (tk)        menyapa

arus (ts)        anyir

arwah (ta)        arwah

asal (ta)        asal

asat (ts)        habis airnya (untuk sungai, danau, dsb.)

asah (tk)        asah

asih (ta)        kasih

asin (ts)        asin

asrep; asrep (ts)        dingin

asma (ta)        nama

asmara (ta)        asmara

asmarandana (tg)        nama metrum macapat

asor (ts)        nista

asor (tkr)        kalah

asrep; asrep (ts)        dingin

asri (ts)        menyenangkan untuk dipandang

asta (ta)        tangan

asta (tk)        bawa

asu (ta)        anjing

asung (tk)        menghaturkan

asem (ta)        asam (buah)

ati (ta)        hati

ati-ati (tkr)        hati-hati

atis (ts)        dingin (untuk hawa, udara)

atos (ts)        keras

atur (tk)        atur

aturi (tk)        beri; persilakan

atus (ts)        tidak lagi mengandung air

awak (ta)       badan, tubuh

awan (ta, tk)        siang

awang (tk)        berhitung tanpa alat bantu

awang-awang (ta)        langit bebas

awas (ts)        tajam (pengelihatan)

awas (tpw)        awas

awèh (tk)        beri

awèt (ts)        tidak cepat rusak

awit (tpy)        karena

awis ; awis (tkr)        mahal

awis-awis; awis-awis (ts) jarang

awoh (tk)        berbuah

awon awon (ts)        jelek/buruk

awor (tk, tkt)        bercampur dengan

awrat (tk)        berat

awu (ta)        abu

awur (tk)        sebar

awur (tk, tkt)        asal-asalan

awut (tk)        membuat berantakan

ayahan (ta)        kewajiban

ayam; ayam (ta)        ayam

ayem (ts)        tentram (hati)

ayo (tpw)        ayo

ayom (tk)        perlindungan

ayu (ts)        cantik

aywa (tpw)        jangan

B

bab (ta)        bab, hal, mengenai

babad (ta)        cerita sejarah

babagan (tsb)        tentang

babak-bundhas (ts) babak-belur

babal (ta)        putik buah nangka

babar (ts)        menjadi banyak

babaran (tk)        bersalin

babat (ta)        bagian dalam usus sapi

babat (tk)        tebang

babit (tk)        mengayunkan benda dengan menahan ujungnya

babon (ta)        induk ayam

babu (ta)        perempuan pembantu

babut (ta)        permadani

bacem (tk)        peram; dimasak dengan bumbu tertentu

bacin (ts)        bau bangkai

bacut (tk)        lanjut

badan (ta)        diri

badhé (tk)        tebak

badhé; badhe (tsb)        akan

badheg (ts)        bau busuk

badhèk (ta)        air tapai

badhug (ta)        tembok rendah untuk meletakkan sesuatu

bagaskara (ta)        matahari

bagus (ts)        tampan

bahu (ta)        100 m2

bahu (ta)        bahu; tenaga

bahureksa (ta)        penguasa

bajang (ts)        kerdil

bajing (ta)        tupai

bajul (ta)        buaya

bakal (ta)        bahan pakaian

bakal (tsb)        akan

bakar (tk)        bakar

bakda (tkr)        setelah

bakul (ta)        pedagang

balang (tk)        lempar

balé (ta)        rumah/bangunan

balèn (tk)        rujuk

bali (tk)        pulang

balung (ta)        tulang

banaspati (ta)        hantu berbentuk api

bandar (ta)        agen besar, cukong

bandar (ta)        pelabuhan

bandhul (ta)        bandul

banger (ts)        bau busuk (misalnya dari air keruh)

banget (tkr)        sangat

bangga (tk)        meronta

bangir (ts)        mancung

bangka (tk)        mati (kasar)

bangké (ta)        bangkai

bangkèkan (ta)        pinggang

bangkèlan (ta)        buntalan besar

bangku (ta)        bangku

bangsa (ta)        bangsa

banda (tk)        mengikat kedua tangan ke belakang

bandayuda (tk)        berperang

bandan (ta)       tawanan

bandha (ta)       harta

banon (ta)        batu bata

bantah (ta)        bantah

bantal (ta)        bantal

bantala (ta)        tanah

banting (tk)        banting

banyak (ts)        angsa

banyu (ta)        air

bapa (tg)        bapa/ayah

bapang (ta)        parit/ genangan air

bar (tkr)        selesai

barang (ta)        barang

barang (ta)        pertunjukan kesenian berkeliling

barat (ta)        angin

barep (ts)        sulung

barès (ts)        terus terang

baris (tk)        baris

baruna (tg)        dewa lautan

barung (ts)        besar; utama

baskara (ta)        matahari

bata (ta)        bata

batang (tk)        tebak

bathang (ta)        bangkai

bathara (tsd)        sebutan untuk dewa

bathari (tsd)        sebutan untuk dewi

bathok (ta)        tempurung

bathuk (ta)        dahi

bathi (ta)        keuntungan

batih (ta)        keluarga

baut (ts)        pintar; trampil

bawa (ta)        pembukaan gending

bawang (ta)        bawang

bawang lanang (ta)        bawang berumbi tunggal

bawèl (ts)        nyinyir

bawéra (ts)        subur (untuk lahan)

baya (ta)        buaya

bayan (ta)        petugas keamanan desa

bayar (tk)        bayar

bayem (ta)        bayam

bayèn (tk)        melahirkan

bayi (ta)        bayi

bayu (ta)        angin

bebana (ta)        permintaan sebagai syarat

bebandan (ta)        tawanan

bebasan (tsb)        seperti; layaknya

bebaya (ta)        bahaya

bebayu (ta)        otot

bebedhag (tk)        berburu

bebucal; bebucal (tk)        berhajat besar

bebudhen (ta)        kepribadian

bebuwang (tk) berhajat besar

bebed (ta)        kain panjang yang dipakai pria

bèbèk (ta)        itik

bebrayan (tk)        berkeluarga

bebungah (ta)        hadiah

bebendhu (ta)        hukuman

bedhigasan (ts)       tingkahnya tidak karuan; tidak bisa diam

bengkok (ta)        tanah yang hak garapnya diberikan kepada lurah sebagai bagian dari

fasilitas jabatan

becik (ts)        baik

becus (ts)        mampu

béda (ts)        berbeda

béda (tk)        goda

bedaya (ta)        tarian sakral yang menjadi ciri khas keraton

bédhah (ts)        terbuka paksa

bedhidhing (ta)        udara dingin di musim kemarau

begawan (ta)        pendeta

begundhal (ta)        kaki-tangan

beja (ts)        beruntung

bejat (ts)        rusak

béka (tk)        meronta

bekasakan (ta)        hantu hutan

beksa (ta)        tari

beksan (ta)        tarian

belang (ta, ts)        belang

belèk (tk)        iris sepanjang garis tengah

bèlèk (ta)        kotoran mata

belik (ta)        sumber air

beling (ta)        kaca

bena (ta, ts)        banjir

bendara (ta)        majikan

bendha (ta)        nama pohon

bendhé (ta)        gong kecil

bendhel (ta)        ikatan

bendho (ta)        alat pemotong (sejenis celurit)

bendhol (ta)        bengkak

bener (tkr)        benar

bengawan (ta)        sungai

bengep (ts)        sembab

bengi (ta)        malam

benik (ta)        kancing baju

bening (ts)        jernih

benjut (ts)        menjadi empuk karena tekanan/hantaman

beras (ta)        beras

bèrèng (ta)        luka di sudut bibir

berèt (ts)        tergores

besar (ta)        nama bulan dalam kalender jawa

bèsèr (ts)        sebentar-sebentar kencing

besèt (ts)        sayat

besmi (tk)        bakar

besus (ts)        pandai; trampil

bethèk (ta)        pintu pagar

bekti (ta)        bakti

beta (tk)        bawa

betah (tkr)        betah; enggan pergi

betah; betah (tk)        butuh

beton (ta)        biji nangka

beya (ta)        biaya

binarung (tkr)        seiring; diiringi

bingar (ts)        ceria

binggel (ta)        gelang kaki

bingget (ta)        tanda dikulit akbiat jepitan atau lilitan yang ketat

biyèn (tkr)        dahulu

blaka (tk)        berterus terang

blalak-blalak (ts)        membeliak; besar (untuk mata)

blanak (ta)        jenis ikan

blatèr (ts)        ramah; mudah bergaul

blarak (ta)        daun kelapa kering

bledhèg (ta)        guntur

bledhèh (tk)        terbuka kancingnya (untuk baju)

blèdru (tkr)        salah pilih/tertukar karena mirip

bléncong (ta)        lampu minyak untuk penerangan dalam pagelaran wayang kulit

bléndrang (ta)        sisa masakan bersantan yeng sudah dipanaskan berkali-kali

blereng (ts)        tidak nampak jelas; kabur

blesek (tk)        membenamkan ke dalam tumpukan

blirik (ts)        berbintik kecil  (mis. panci, ayam)

bloloken (tkr)        silau

blondho (ta)        endapan yang dihasilkan dalam pembuatan minyak kelapa

blorok (ts)        bulunya berbintik hitam putih (untuk ayam betina)

bluluk (ta)        buah kelapa yang masih sebesar telur

bocah (ta)        anak

bodho (ts)        bodoh

bodong (ts)        pusar yang menonjol keluar

boga (ta)        pangan

bojo (ta)        suami/isteri

bokong (ta)        pantat

bokor (ta)        mangkuk besar

bolong (ts)        berlubang

bolot (ta)        daki

bonang (ta)        alat musik pukul, bagian dari gamelan

bong (tk)        bakar

bong (ta)        makam Cina

bong (ta)        tukang khitan

borok (ta)        luka lama

boyong (tk)        pindah

brabak (tk)        berubah merah (wajah)

brahala (ta)        raksasa sebesar gunung

brahmana (ta)        pendeta

brambang (ta)        bawang merah

bramantya (ts, ta)        marah, kemarahan

brangasn (ts)        mudah marah

branta (ta)        asmara

brastha (tk)        berantas

bréwok (ta)        bercambang

brindhil (ts)        habis jarena dicabuti

brodhol (ts)        terlepas ikatannya

brudhul (tk)        keluar berama-ramai/berbarengan

brobos (tk)        masuk melalui celah atau kolong

brojol (tk)        keluar sebelum waktunya; keluar dari bungkusan

brongkos (tg)        nama masakan

brukut (ts)        terbungkus rapat

brutu (ta)        tunggir ayam

bubar (ts)        bubar; selesai

bubul (ta)       semacam bisul di telapak kaki

bubur (ta)       bubur

bubut (tk)       mencabuti

buda (tg)        rabu

budeg (ts)        tuli

budeng (tg)        kera hitam

bujana (ta)        hidangan

bujel (ts)        tumpul

bulak (ts)        pudar warnanya

bulak (ta)        daerah terbuka/ padang

bulan (ta)        bulan

bumbu (ta)        bumbu; rempah-rempah

bumbung (ta)        tempat berbentuk pipa besar atau terbuat dari bambu

bumpet (ts)        tersumbat

bunder (ts)        bundar

bundhas (ts)        melecet (cedera)

bundhel (ts)        ujungnya membulat

bundhet (ts)        diberi ikatan mati pada ujungnya (mis. benang)

bung (ta)        rebung

bungah (ts)        gembira

bungkem (tk)        diam; tidak mau mengatakan apa-apa

bungkik (ts)        kerdil

bungkil (ta)        ampas minyak kacang

bungkus (ta)        bungkus

bungur (tg)        nama tanaman

buntel (tk)        bungkus

buntet (ts)        buntu; tidak berongga

buntil (ta)        masakan terbuat dari kelapa muda, ikan teri dan daun keladi sebagai pembungkus

buntu (ts)        buntu

buntung (tsa)        hilang/patah bagian ujungnya

burek (ts)        legap

bureng (ts)        tidak jelas terlihat

buri (tkr)        belakang

burik (ts)        bopeng

buru (tk)        kejar

buruh (ta)        bekerja untuk orang lain

busana (ta)        pakaian

busana (tk)        berpakaian

buthak (ts)        botak

buthuk (ts)        membusuk (untuk ikan)

buwang (tk)        buang

buyut (ta)        cicit

buyuten (ts)        bagian tubuhnya bergerak-gerak tidak terkendali karena ketuaan

C

cabar (ts)        kehilangan arti

cabé (ta)        nama rempah untuk jamu

cacat (ts)        cacat

cadhong (tk)        menadahkan tangan

cagak (ta)        tongkat/penyangga

cakepan (ta)        lirik lagu

cakot (tk)        gigit

cambah (ta)        tauge

campur (tk)        campur

candala (ts)        jahat

candhik kala (ta)        semburat merah di langit pada saat senja hari

candra (ta)        bulan

candra (ta)        kiasan

cantrik (tg)        murid padepokan

candramawa (ta)        kucing hitam

cangkem (ta)        mulut

cangking (tk)        jinjing

cangkir (ta)        cangkir

cangklong (ta)        pipa

cangklong (tk)        menyandang di bahu (mis. tas)

cakra (ta)        senjata dalam pewayangan; lingkaran

canthas (ts)        bicaranya lantang (untuk wanita)

canthèl (ta)        sejenis jagung

cantheng (ta)        radang di jari, umumnya di ibu jari kaki akibat tertusuk kuku

canthing (ta)        alat untuk membatik

canthol (tk)        cantol

capil (ta)        topi petani, bentuknya bulat  berujung runcing

caping (ta)        topi petani, bentuknya bulat  berujung runcing

caplak (ta)        penyakit kulit

caplok (tk)        memasukkan semua ke dalam mulut

cara (ta)        cara

caraka (ta)        utusan

carang (ta)        ranting

carita (ta)        cerita

carup (tk)        raup

cathèk (tk)        gigit (anjing)

cathet (tk)        catat

catur (ts)        empat

caturan (tk)        bercakap-cakap

cawang (ta)        tanda V

cawet (ta)        celana dalam

cawé-cawé (tk)        turun tangan, ikut campur

cawis (tk)        sedia

cawik (tk)        cebok

cawuk (tk)        mengambil dengan cara menyendokkan tangan

cecak (ta)        cicak

cedhak (ts)        dekat

cédhal (ts)        cadel; tidak bisa mengucapkan bunyi tertentu dengan benar

cegat (tk)        hadang

cèkèr (ta)        kaki unggas

cekel (tk)          pegang

celempung (ta)        alat musik bagian dari gamelan

cekak (ts)          tidak mencukupi; ukurannya tidak memadai; pendek sekali

cekakakan (tk)          tertawa-tawa dengan keras

cekakik (ta)          ampas kopi (sisa setelah diminum)

celak (ts)          dekat

celak (ta)        penegas garis tepi mata

celuk (tk)        panggil

celak (ta)        penegas garis tepi mata

cemani (ts)        hitam

cemawis (ts)        tersedia

cemeng (ta)        hitam

cemèng (ta)        anak kucing

cemèt (ts)        pipih karena tertimpa/tertekan beban berat

cemplang (ts)        tidak sedap/ kurang pas (mis. nada, rasa)

cemplung (tk)        masuk (dalam cairan)

cendhak (ts)        pendek

cengkir (ta)          buah kelapa yang masih sebesar kepalan, belum berdaging buah

cepak (ts)        tersedia, siap

cepak-cepak (tk)        siap-siap

cepeng; cepeng (tk) pegang

ceplus (tk)        gigit (untuk cabai)

cepuk (ta)        wadah kecil, biasanya untuk menyimpan perhiasan

cerek (ta)        tanda bunyi “re” pada aksara Jawa

cèrèt (ta)        cerek

ceriwis (ts)        banyak bicara

cetha (tkr)        jelas

cethèk (tk)        dangkal

céthok (ta)        sendok semen

cethik (tk)        menyalakan (api)

cethil (ts)        pelit

cethot (tk)        cubit besar

cicil (tk)        angsur

cicip (tk)        merasai

cidra (tk)        tidak menepati janji

cidra (tk)        curi; culik

cilaka (ts)        celaka

cilik (ts)        kecil

cingak (ts)        terkejut karena heran

cluluk (tk)        tiba-tiba berkata

clingus (ts)       pemalu, tidak percaya diri

cluluk (tk)        tiba-tiba berkata

cluthak (ts)        suka mencuri makanan (untuk hewan, terutama kucing)

clomètan (tk)        berteriak tak beraturan/bersahutan

climèn (tkr)        kecil-kecilan

cocot (ta)        mulut (kasar)

colong (tK)        curi

colok (ta)        penerangan/ obor

congor (ta)        hidung binatang berkaki empat

conthèng (ta)        coret silang

coplok (tkr)        tanggal

copot (ta)        tanggal/cabut

coro (ta)        kecoa

cotho (ts)        repot karena ditinggalkan; kehilangan andalan

crah (tkr)        bercerai; saling bermusuhan

cubles (tk)        menusuk dengan benda runcing

cubluk (ts)        bodoh

cucuk (ta)        paruh

cucakrawa (ta)       nama burung

cungkup (ta)        atap makam

culek (tk)        mencolok mata

culik (tk)        mengambil sebagian nasi yang sedang dimasak

culik (tk)        culik

cunduk (ta)        tusuk

cundrik (ta)        keris kecil

cupet (ts)        terbatas

cupu (ta)        wadah kecil, biasanya untuk menyimpan perhiasan

curek (ta)        kotoran telinga

cures (ts)        habis/tertumpas

curut (ta)        tikus bermoncong runcing

cuthik (ta)        tongkat penunjuk/ potongan dahan

cuwa (ts)        kecewa

cuwil (tk)        mengambil sebagian kecil

cuwil (tkr)        terkoyak/terpotong /pecah  sedikit di bagian tepi

D

dadak (ta)        harus, terpaksa

dadakan (tkr)        tanpa rencana

dadakan (ta)        pemicu timbulnya permasalahan

dadar (ta)        makanan/ telor digoreng melebar tipis

dadèn-dadèn (ts)        jadi-jadian

dhadhal (ts)        runtuh terbawa arus air

dadi (ts)        jadi

dados; dados (ts)        jadi

dagang (tk)        berdagang

dahana (ta)        api

dahuru (ta)        huru-hara

dahwèn (ta)        suka mencerca

(ts) dalah  (tpy)        dan; bersama dengan

(ts) dalan  (ta)        jalan

(ts) dalem  (ta)        rumah

dalu; dalu (ta, tkr)        malam

(ts) damar  (ta)        lak

damar (ta)        pelita

damèn (ta)        barang padi

dami (ta)        jerami nangka

damu (tk)        tiup

dandan (tk)        bersolek/ merias diri

dandan-dandan (tk) memperbaiki bangunan (rumah dsb.)

dandang (ta)        periuk nasi

dandos; dandos (tk) perbaiki

danawa        raksasa

dara (ta)        burung dara

dara (ts)        betina muda (untuk ayam)

darbé (tk)        milik, mempunyai

darma (ta)        darma, kewajiban dalam hidup

dasa (tw)        puluh

dawa (ts)        panjang

dawet (ta)        cendol

daya (ta)        daya

daya-daya (tkr)       bersegera

dédé (tkr)        bukan

degan (ta)        kelapa muda

deling (ta)        bambu

demèk (tk)        pegang

déné (tpy)        sedangkan

dengkul (ta)        lutut

désa (ta)        desa

déwa (ta)        dewa

dhadha        mengakui kesalahan

dhadha (ta)        dada

dhadhak (ta)        getah

dhadhakmerak (ta) pemain dalam kesenian reog yang memakai hiasan bulu merak di kepalanya

dhadhu (ta)        dadu

dhadhung (ta)        tali

dhagelan (ta)        lawak

dhangka (ta)        tempat asal

dhalang (ta)        dalang

dhawah; dhawah (tk)        jatuh

dhawuh (ta; tk)        ucapan; perintah; memerintahkan

dhayoh (ta)        tamu

dhédhé (tkr)        berjemur

dhèdhèl (ts)        terlepas jahitannya

dhèdhès (ta)        bau harum yang keluar dari tubuh musang

dhedhes (tk)        mendesak seseorang dengan pertanyaan agar ybs mengaku/ membuka rahasia

dhemen (tk)        suka

dhèmpèt (ts)        melekat/rapat

dhèndhèng (ta)        daging dikeringkan dengan bumbu tertentu

dhéwé (tkr)        sendiri; sendirian

dhidhis (tk)        mencari kutu di kepala sendiril

dhingklang (ts)        pincang

dhingkluk (tk)        tunduk/menghadak ke bawah

dhodhog (tk)        ketuk pintu

dhodhos (tk)        lubangi dari bawah

dhompol (tw)        untaian dalam 1 tangkai  (untuk buah)

dhondhong (ta)        nama buah

dhongkol (ta)        mantan pejabat

dhoyong (ts)        miring

dhudha (ta)        duda

dhupak (tk)        tendang menggunakan tumit

dhuwit (ta)        uang

dhuwur (ts)        tinggi

dingklik (ta)        bangku kecil

disik (tkr)        terlebih dulu

dluwang (ta)        kertas

dolan (tk)        bertandang

dolanan (ta, tk)        bermain, mainan, permainan

donga (ta)        doa

dora (tkr)        tidak terus terang

dosa (ta)        dosa

drèngès (ta)        bunga sirih

driji (ta)        jari

dubang (ta)        ludah merah/ ludah orang yang makan sirih

duduh (ta)        kuah

duduh (tk)        beritahu

dugang (tk)        tendang dengan lutut

dulur (ta)        saudara

dulit (tk)        colek

dumuk (tk)        sentuh

dumunung (tk)        berada; bertempat

dunung (ta)        tempat

duratmaka (ta)        pencuri

duren (ta)        durian

durung (tkr)        belum

dustha (tk)        curi

duwa (tk)        tentang, lawan, tidak menyetujui

dwi (tw)        dua

E

éca; éca (ts)        enak

édan (ts)        gila

eden (tk)        ejan

édhum (ts)        terlindung dari sinar matahari

èdi (ts)        indah

éka (tw)        satu

elar (ta)        bulu unggas

èlèk (ts)

éling (tk, ts)        ingat, sadar

élok (tkr)        aneh, ajaib

eluk (tk)        tekuk

éman (tk)        sayang kalau hilang atau rusak

embah (ta)        nenek/kakek

embuh (tpw)        entah

emoh (tk)        tidak mau

emplok (tk)        memasukkan ke mulut

empuk (ts)        lembut

émut ; émut (tk)        ingat

emut (tk)        kulum

enak (ts)        enak

èncèr (ts)        cair

éndah (ts)        indah

endas (ta)        kepala binatang

éndha (tk)        berkelit

éndhang (ta)        gadis padepokan

éndhang (tk)        jenguk

endi (tg)        mana

endog (ta)        telur

enek (ts)        mual

enem (tw)        enam

enep (tk)        endap

ener (ta)        arah

énggal (tkr)        cepat

énggal (ts)        baru

énggar (tk)        hibur

énggok (tk)        belok

enggon (ta)        tempat

enjing; enjing (ta, tkr)        pagi

entas (tk)        angkat, ambil

enték (ts)        habis

entén (tk)        tunggu

entén-entén (ta)        isi jajanan terbuat dari partan kelapa dimasak dengan gula merah

énthéng (ts)        ringan

énthong (ta)        sendok nasi

éntuk (tk)        dapat, boleh

entup (ta)        sengat

entut (ta)        kentut

enyang        tawar (harga)

epang (ta)        dahan

erah (tk)        ambil

éram (tk)        heran

eri (ta)        duri

esthi (tk)        latih; pelajari

estu (tkr)        sungguh, jadi

esuk (ta, tkr)        pagi

éthok-éthok (tk)        pura-pura

éwa (ts)        kecewa

éwadéné  (tpy)        walaupun demikian

éwah (tk)        ubah; berubah

éwuh (tk)        rikuh; serba salah

éyang (ta)        terlindung dari sinar matahari atau hujan

éyup (ts)        terlindung dari sinar matahari atau hujan

G

gada (ta)       gada; senjata pemukul

gadhah (tk)       mempunyai

gabah (ta)        padi yang telah terlepas dari tangkainya

gagah (ts)        gagah

gagak (ta)       burung pemakan bangkai

gagang (ta)        tangkai

gagas (tk)       pikir

gagasan (ta)       pemikiran

gagé (tkr)       cepat

gajah (ta)        gajah

gajih (ta)        lemak jenuh

galak (ts)        galak

galar (ta)        batang bambu; alas kasur

galengan (ta)        jalur pembatas petak sawah

galih (tk)        merasakan dalam hati

gaman (ta)        senjata

gambang (ta)        alat musik pukul, bagian dari gamelan

gambar (ta)        gambar

gambas (ta)        petola

gambir (ta)        buah pinang yang sudah diolah

gambir anom (ta)        nama tarian ksatria

gambyong (ta)        nama tarian untuk menyambut tamu

gamel (tg)        tukang merawat kuda

gamelan (ta)        alat musik Jawa

gampang        senang/mudah

gampil (ts)        gampang

gamping (ta)        kapur tembok

ganda (ta)        bau

gandarwa (ta)        hantu besar hitam

gandheng (ts)        gandeng

gandhes (ts)        luwes

gandhol (tkr)        bergantung  pada sesuatu

gandhul (tkr)        tergantung (untuk benda yang berat)

ganep (ts)        gebap

gangsal (tw)        lima

gangsar (tkr)        lancar

ganjar  (tk)        ganjar

ganjaran (ta)        hadiah

ganjil (ts)        ganjil

gantung (tk)        gantung

gaplek (ta)        singkong yang dikeringkan

gapuk (ts)        rapuh dimakan usia (untuk kayu)

gapyuk (tkr)        tidak sengaja bertemu berhadapan

garan (ta)        gagang

garing (ts)        kering

garu (ta; tk)        alat penggaruk tanah; menggaruk tanah

garudha (ta)        garuda, nama burung dalam mitos Jawa

garwa (ta)        suami/istri

gasik (tkr)        awal

gatel (ts)        gatal

gathot (ta)        makanan dari gaplek

gawan (ta)        bawaan

gawang-gawang (tk)        terbayang

gawat (ts)        gawat

gawé (tk)        buat

gayuh (tk)        capai

geber (tk)        layar penutup panggung

gebug (tk, ta)        hantam badan dengan benda keras; pemukul besar

gedhang (ta)        pisang

gedhé (ts)        besar

gegana (ta)        angkasa

gegayuhan (ta)        keinginan/cita-cita

geger (ta)        punggung

gègèr (tkr)        riuh

gegedhug (ta)        pimpinan (untuk kelompok penjahat, pembuat onar)

gela (ts)        kecewa

gelak (tk)        percepat

gelang (ta)        gelang

gelar (tk)        bentang (tikar)

gelas (ta)        gelas

gelem (tk)        mau

gelis (tkr)        cepat

gemak (ta)        burung puyuh

gemang (tk)        tidak mau

gembili (ta)        sejenis ubi/talas

gemblak (ta)        anak lelaki yang dijadikan kekasih seorang lelaki

gemblung (ts)        tidak normal pikirannya

gembok (ta)        gembok

gembor (ta)        alat untuk menyiram tanaman

gemes (tk)        gemas

gemlethak (ts)        bergeletakan

gemlundung (tk)        bergelundungan

gemuk (ta)        lemak; pelumas

gemrégah (tk)        bangkit seketika

gemrubug (tkr)        menderu (suara angin)

gemrudug (tkr)        pergi/datangnya dalam jumlah besar

genah (ts)        jelas

gendèr (ta)        nama alat musik pukul

gendhakan (ta)        wanita simpanan

gendhèng (ts)        atap seng

genthèng (ts)        genteng

gendheng (ts)        gila

gendhing (ta)        musik Jawa

gendhuk (tg)        panggilan untuk anak perempuan

gendruwo (ta)        hantu besar hitam

gendul (ta)        botol

geni (ta)        api

gènjèr (ta)        nama sayuran

genjot (tk)        genjot

gèntèr (ta)        galah

genthong (ta)        tempayan

genuk (ta)        tempayan kecil

gepuk (tk)        pukul

geplak (ta)        nama jajanan terbuat dari kelapa parut dan gula

gèpèng (ts)        pipih

gerah (ts)        sakit

gerang (ts)        dewasa

gerèh (ta)        ikan asin

gering (ts)        sakit

germo (ta)        mucikari

gero-gero (tk)        menangis melolong-lolong

gèsèh (ts)        berbeda; tidak pas

geseng (ts)        hitam

getak (tk)        hardik

getap (ts)        cepat bertindak/bereaksi

getas (ts)        retas; mudah patah

gèthèk (ta)        rakit

gething (tk)        benci

gethuk (ta)        singkong rebus tumbuk

getih (ta)        darah

getir  (ts)        rasa antara pahit menusuk

getun (ts)        menyesal

gila (ts)        jijik

gilig (ts)        tidak pipih

ginanjar (tk)        diberi hadiah/ganjaran

giris (ts)        ngeri

githok (ta)        belakang leher

glangsaran (tkr)        jatuh terkapar

glathik (ta)        burung gelatik

glenik (tk)        bujuk

glethak (tk)        terletak

glindhing (tk)        menggelinding; bergulir

gludhug (ta)        guruh

glundhung (tk)        menggelinding; terguling

gobang (ta)        uang logam

gocèk (tk)        berpegang

godhag (ts)        mampu berbuat

godhog (ts, tk)        rebus

godhong (ta)        daun

gombak (ta)        surai kuda

gombal (ta)        kain usang

gondhal-gandhul (ts)        berayun-ayun (untuk benda yang tergantung)

gondhangen (ts)        bengkak setelah dikhitan

gondhelan (tk)        berpegang

gondhok (ta)        bengkak pada kelenjar di leher

gondhol (tk)        bawa lari/gonggong

gondhong (ta)        bengkak pada leher

gosong (ts)        hangus

gothot (ts)        berotot

gotong (tk)        angkat

gowang (ts)        berlubang pada tepi (gigi, pisau)

grabah (ta)        perlengkapan rumah dari tanah liat

gragal (ta)        kerikil besar

gragapan (tkr)        dalam keadaan belum sepenuhnya terjaga dari tidur

grahana (ta)        gerhana

grana (ta)        hidung

grapyak (ts)        ramah

grenengan (tk)        berbicara dengan suara rendah

grèsèk (tk)        mencari di antara sisa-sisa

gringgingen (ts)        kesemutan

gringsing (tg)        jenis kain/tenunan

griya (ta)        rumah

gruwung (ts)        berlubang

grudhal (ta)        kotoran gigi

gudig (ta)        kudis

gudir (ta)        agar-agar

gugah (tk)        bangunkan

gugu (tk)        percaya

gulu (ta)        leher

gulung (tk)        gulung

guling (ta)        guling

gumpil (tk)        runtuh (tanah)

gumuk (ta)        bukit kecil

gumyak (kr))        ramai; ceria

gundhul  (ts)        tidak berambut

gundhul (ta)        kepala

gurah (ta)        nama tanaman

gurah (tk)        membersihkan saluran pernafasan menggunakan getah tanaman gurah

gusah (tk)        halau

guwa (ta)        gua

guyon (tk)        gurau

guyub (ts)        rukun damai

gudheg  (ta)        masakan terbuat dari nangka muda

gori  (ta)        nangka muda

gogor  (ta)        anak harimau

gugur  (tk)        mati di medan perang

grudug (tk)        pergi/ datang dalam jumlah besar

gya (tkr)        segera

H

hastha (tw)        delapan

hara (tpw)        coba

hayo (tpw)        hayo

I

iba (tsb)        betapa

iberé (ta)        terbang

ibu (ta)        ibu

ical; ical (ts)        hilang

idep (ta)        bulu mata

ider (tk)        berjualan berkeliling

idu (ta)        ludah

idhep-idhep (tsb)        sekalian; hitung-hitung

idhi (ta)        izin

iga (ta)        tulang belikat

iguh (ta)        upaya; cara

ijir (tk)        berhitung

ijem; ijem (ts)        hijau

ijo (ts)        hijau

ijol (tk)        tukar

iket (ta)        ikat kepala

iki (tg)        ini

iku (tg)        itu

iler (ta)        air liur

iming-iming (ta)        hadiah yang dijanjikan

ila-ila (ta)        kepercayaan; pantangan

ilat (ta)       lidah

iler (ta)        liur

ili (ta)        aliran (air, darah, dsb.)

imbal (tsb)        berselang-seling; saling

imbu (tk)        peram

imbuh (tk)        tambah; bonus

impèn (ta)        mimpi; impian

ina (ts)        hina

ing (tpr)        di

inger (tk)        geser dengan sedikit mengubah arah

ingklik (ta)        bunga singkong

ingklik (tkr)        cepat-cepat berlalu; berjalan cepat

ingkung (ta)        ayam panggang utuh

ingsun (tg)        saya

ingu (tk)        memelihara (hewan)

ingon-ingon (ta)        hewan peliharaan

inuman (ta)        minuman

iring (tk)        iring

iringan (tkr)        samping

ireng (ts)        hitam

isep        hisap

isih (tkr)        masih

isin (ta, ts)        malu

isis (ts)        sejuk terkena semilir angin

iwak (ta)        ikan

J

jabang (ta)       bayi

jabel (tk)       cabut kembali

jabut (tk)       cabut

jadah (ta)       nama jajanan dari ketan

jaé (ta)       jahe

jaga (tk)       jaga

jagabaya (ta)       petugas keamanan desa

jagad (ta)       dunia

jagal (ta)       tukang potong hewan ternak

jagang (ta)       penopang, standar

jail (ts)       jahil

jajah (tk)        menguasai wilayah  negara lain

jajah (ts)       telah bepergian ke berbagai pelosok

jajal (tk)       coba

jajan (ta)       makanan ringan

jaka (ts)        jejaka

jala (ta)       jala

jaladri (ta)       lautan

jalak (ta)       nama burung

jalaran (ta)       penyebab

jaler; jaler (ts)       laki-laki

jalma (ta)       manusia

jalu (ta)       taji

jaluk (tk)       minta

jaman (ta)       jaman

jamas  (tk)       keramas

jambak (tk)       tarik rambut

jamban (ta)       peturasan; kamar mandi

jambé (ta)        pinang (tanaman)

jambul (ta)        jambul

jamu (ta)       obat tradisional jawa

jan (tpw)        sungguh-sungguh

jangan (ta)       sayur

jangar (ts)       rasa sakit dan panas di kepala

jangga (ta)       leher

janggel (ta)       tongkol jagung

janggut (ta)       dagu

jangka (ta)       jangka; ramalan

jangkar (tk)       memanggil nama, tanpa sebutan penghormatan

janma (ta)       manusia

japa (ta)       mantra

jarak (tk)       cari perkara

jaran (ta)       kuda

jarang (ta)       air panas

jaré (tk)       katanya

jarem (ts)       tuam

jarik (ta)       kain panjang

jarit (ta)       kain panjang

jarké (tk)       biarkan

jarwa (tk)        cerita, terjemah

jatah (ta)       jatah

jathilan(ta)       tarian kuda kepang

jatukrama(ta)       jodoh

jawa (ta)       jawa

jawa (ts)       bertanggung jawab; tahu kewajibannya

jawah; jawah (tk,ta)       hujan

jawat (tk)       ganggu, godha (antara pria dan wanita)

jawata (ta)       dewa

jawi (ta)       jawa

jawil (tk)       senggol

jaya (ts)        jaya

jèbèng (ta)       panggilan untuk bayi

jegog (tk)        salak (anjing)

jegur (tk)       terjun ke dalam air

jejeg (tk)       tendang

jejeg (ts)       tegak

jejer (ta)        adegan dalam pagelaran wayang yang menggambarkan  ertemuan raja,

para punggawa serta keluarga istana

jèjèr (ts)        bersanding, bersebelahan

jejuluk        panggilan, sebutan

jelih (tk)       teriak

jembar (ts)       luas

jembrak (ts)       rambut yang gondrong dan berdiri

jèmbrèng (tk)       buka lebar (untuk kain, kertas, dsb.)

jembut (ta)       rambut kemaluan

jempalik (tk)        terguling ke arah berlawanan

jempol (ta)       ibu jari

jemuwah (ta)       jumat

jenang (ta)       bubur halus

jenar (ts)       merah; kuning emas

jenaté (ts)        Al,arhum

jené (ta)       kuning

jeneng (ta)       nama

enggèlèk (tkr)        bangkit secara tiba-tiba

jenggong (tk)        salak (anjing)

jengkar (tk)        pindah, meninggalkan tempat

jèngkèl (ta)       jengkel

jengking (tk)       tungging

jengkol (ta)       jering

jenthik (ta)       kelingking

jepit (tk)       jepit

jeplak (tk)       membuka dengan cepat

jeram (ta)       jeruk

jèrèng (ts)       juling

jerit (tk)       jerit

jero (ts)       dalam

jerohan (ta)       isi perut

jeruk (ta)       limau

jethungan (tk)       petak umpet

jèwèr (tk)       ditarik telinganya

jimat (ta)       jimat

jirih (ts)       penakut

jiwa (ta)       jiwa

jiwit (tk)       cubit

jlèntrèh (tk)       jelaskan

jodho (ta)       jodoh

jojoh (tk)       cucuk dengan benda tajam

jomplang (ts)       tidak setimbang

jorok (tk)       dorong sampai jatuh

jothak (tk)       seteru

juju (tk)       suap langsung ke dalam paruh

jujug (tk)       langsung menuju

jujul (ta)       kembalian

jujur (ts)       lurus

jujur (ts)       jujur

julungpujut (tg)        nama wuku dalam penanggalan jawa

julungwangi (tg)        nama wuku dalam penanggalan jawa

jumadilakir (tg)        nama bulan dalam penanggalan jawa

jumadilawal (tg)        nama bulan dalam penanggalan jawa

jumantara (ta)        angkasa

jumawa (ts)        angkuh

jumbuh (ts)        bertemu, cocok (untuk pendapat, pemikiran)

jumpalitan (tk)        berguling-guling (koprol)

jungkat (ta)       sisir

jupuk (tk)       ambil

juragan (ta)       majikan

juwèh (ts)       suka memberikan komentar tentang urusan orang lain

juragan (ta)       majikan

K

Kabeh       semua

Kacu       sapu tangan

Kacuk       kemaluan laki laki

Kacung       pelayan

Kademen       kedinginan

Kadingaren       tumben

Kadipaten       kadipaten

Kadohan       kejauhan

Kakehan       kebanyakan

Kambil       kelapa

Kampleng       pukul

Kampul2       mengambang

Kampung       kampung

Kana       sana

Kanca        teman/kawan

Kanda       bilang/mengatakan

Kandang       kandang

Kapok       kapok /tidak mau mengulangi

Kapuk       kapas

Kasep       terlambat

Kasur       kasur

Kathok       celana

Kawat       kawat

Kebak       penuh

Kemu       kumur

Kecelek       tertipu/terlambat tidak mendapatkan apa apa

Kecik       biji

Kemaki       belagu ( laki-laki )

Kemayu       genit ( perempuan)

Kembang       bunga

Kembar       kembar

Kembung       kembung

Kemingkel       terbahak

Kena       kena

Kene       sini

Kenceng       banter

Kendel       berani

Kendi       kendi

Kendil       periuk nasi dari tanah

Kendo       longgar/kurang kuat/rapat

Kerdus       kardus

Kethak       jitak

Kenthir       gila

Kenthongan       kentongan

Keplok       tepuk tangan

Kere       kere/gembel

Kerek       kerek

Keri       ketinggalan

Keselak       tersedak

Kikir       kikir

Kisruh       kisruh

Kiwa       kiri

Klambi       baju kemeja

Klapa       kelapa

Klebu       masuk

Klebon       kemasukan

Klilip       kelilipan

Kluwih       nangka sayur

Kobong        terbakar

Kodok       katak

Kocak       kocak

Kolak        kolak

Konangan       ketahuan

Kondang       terkenal

Koplok       pukul

Kopong       tidak ada isinya, kosong

Kosok Balen       sebaliknya

Kosokan       gosokan

Kothak       kotak

Krama       bahasa jawa halus, kawin

Kramas       keramas

Kramat       keramat

Kucing       kucing

Kudu       harus

Kudung       kerudung

Kulit       kulit

Kulu       tetelan

Kumat       kambuh

Kumu       kumur

Kuna       kuno

Kura        kura-kura

Kutha       kota

Kuwat       kuat

Kuwi       itu

L

Labuh       berlabuh

Ladrang       istilah dalam seni karawitan

Laku        perjalanan hidup/cobaan yang harus dilalui

Lalen       pelupa/gampang lupa

Laler       Lalat

Lali        lupa

Lambaran       dasar/alas

Lambe       bibir

Lamur       kabur (pandangan)

Lanang        laki-laki

Lancang       lancang

Landep        tajam

Lapangan       tanah lapangan/lapangan sepak bola

Lara       sakit

Laras       laras

Laris       laris

Latar       halaman

Lawa       kelelawar

Legi        manis

Lelakon       cerita hidup

Lelayu       berita kematian

Lemah        tanah

Lemes       lemas

Lempung       tanah liat

Lemu       gemuk

Lemut       nyamuk

Lenga       minyak

Lengen       lengan

Lenggah       duduk

Lesehan       lesehan

Lesus       angin lesus

Lima       lima

Limpung       ubi goring

Lindu       gempa bumi

Linggih       duduk

Lintang       bintang

Lintu        tukar

Lirih        pelan

Liya        lain

Liyane       yang lain

Lobok        kebesaran/kegedean

Loji       rumah besar bertingkat

Loma       murah hati/dermawan

Lombok       cabe/lombok

Londo       belanda/orang barat

Lor        utara

Loro       dua

Luber        meluber

Lugu       lucu

Lumantar       melalui sesuatu

Lumrah       wajar

Lunga         pergi

Lungguh        duduk

Lurah       lurah

Luwe       lapar

Luwih       lebih

O

obah (tk)        bergerak

obong (tk)        bakar

obor (ta)        obor

obok-obok (tk)        aduk-aduk menggunakan tangan ( biasanya ke air )

oceh (tk)        cakap

ogak (ts)        goyang (untuk gigi)

ombak (ta)        ombak

ombe (tk)        minum

omben-omben (ta)        minuman

omber (ts)        luas

ombyok (tw)        ikatan besar (untuk sayuran, buah- buahan, dsb.)

omong (tk)        cakap

ompol (ta)        air kencing yang dikeluarkan dalam tidur

opak (ta)        kerupuk dari umbi-umbian

ora (tkr)        tidak

orak-arik (ta)        masakan dari telur

orat-arit (tk)        berantakan

osik (ta)        gerak

owah (ts)        gila

owah (tk, ts)        berubah

oyok (tk)        rebut

oyot (ta)        akar

U

ubarampé (ta)        perlengkapan

ucek (tk)        gosok-gosokkan (mata, cucian)

uceng (ta)        jenis ikan sungai

udakara (tpy)        kira-kira, kurang lebih

ucul (tk, ts)        terlepas

udal-udal (tk)        membongkar

udan (ta)        hujan

udani (tk)        telanjangi

udel (ta)        pusar

udheng (ta)        ikat kepala

udi (tk)        ajar; pelajari

udud (ta; tk)        rokok; merokok

udun (ta)        bisul

udur (tk)        berdebat

uga (tkr)        juga

ugal-ugalan (tkr)        bertindak tanpa mengindahkan aturan

ugel-ugel (ta)        pergelangan tangan

uger-uger(ta)        kusen

uget-uget (ta)        larva

ugi (tkr)        juga

ugungan (ts)        senang dipuji

uja (tk)        penuhi segala keinginan

ujar (ta)        perkataan

ujub (tk)        laksanakan

ujur (ta)        membujur

ukara (ta)        kalimat

ukir (tk)        ukir

ula (ta)        ular

ular-ular (ta)        petuah

ulem (tk)        undang

uleng-ulengan

uler (ta)        ulat

ules (ta)        warna (untuk binatang)

ulet (ts)        liat

ulu (tk)        telan

ulung (tk)        serah

uman (tk)        kebagian

umbar (tk)        biarkan/ lepaskan

umbel (ta)        ingus

umbul (ta)        gambar

umbul (ta)        mata air

umbul-umbul (ta)        bendera

umek (ts)        tidak bisa diam

umik-umik (tk)        komat-kamit

umob (ts)        didih

umpak (ta)        alas tiang

umplung (ta)        kaleng

umum (tk)        umum

umur (ta)        umur

umyek (tk)        sibuk sendiri

undamana (tk)        maki-maki

undang (tk)        panggil

under (tkr)        pusat, inti

undha (tk)        terbangkan (untuk layang-layang)

undha-undhi (tks)        sama saja, selisih usianya sedikit

undhuh (tk)        petik/tuai

undur (tk)        gerak ke belakang

undur-undur (ta)        nama serangga

uni (ta)        bunyi, suara

unjuk (tk)        geser naik

unjuk (tk)        minum

unta (ta)        onta

untab (tk)        temani saat-saat keberangkatan

untal (tk)        telan semuanya

untel-untel (tk)

unthuk (ta)        busa

unting (tk)        ikat segepok

untir (tk)        pelintir

untu (ta)        gigi

untup-untup (tk)        muncul sedikit

upama (tpy)        umpama

upaya (ta)        upaya

ura-ura (tk)        bernyanyi

urik (ts)        curang

urip (tk,ts)        hidup

usada (ta)        obat

usir (tk)        usir

usus (ta)        usus

usus-usus (ta)        tali kolor

utang (ta)        hutang

uwa (tg)        sebutan untuk kakak ayah/ibu

uwal (tkr)        terlepas dari ikatan (untuk manusia)

uwan (ta)        uban

uwang (ta)        rahang bawah

uwi (ta)        talas

uyuh        air seni

uyup       hirup (untuk cairan, mis. kuah sayur)

W

waca (tk)        baca

wacana (ta)        wacana, diskursus

wadal (ta)        tumbal

wadanan (ta)        julukan

wadas (ta)        cadas

wadat (tkr)        tidak menikah

wadhag (ta)        jasmani

wadhah (ta)        tempat

wadhang (ts)        masakan kemarin (untuk nasi)

wadhuk (ta)        bendungan

wadhuk (ta)        perut

wadi (ta)        rahasia

wadon (ts)        perempuan

wadul (tk)        mengadu

wagé (tg)        nama pasaran

wagu (ts)        janggal

waja (ta)        gigi

waja (ta)        baja

wajan (ta)        kuali

wajik (ta)        nama jajanan terbuat dari ketan

wajik (ts)        jajaran genjang

walanda (tg)        belanda

walandi (tg)        belalang

walang (ta)        belalang

walèh (tkr)        bosan

wales (tk)        balas

walesan (ta)        gagang pancing

wali (ta)        wali

walik (ta)        balik

waluh (ta)        labu

waluya (ts)        sehat

wana (ta)        hutan

wanara (ta)        kera

wanadri (ta)        hutan rimba

wanci (ta)        waktu

wanda (ta)        suku kata

wanda (ta)        badan

wandé; wandé (ta)        warung

wandu (ts)        banci

wangi (ts)        harum

wangsit (ta)        wahyu

wangun (ta)        bentuk

wangwung (ta)        kumbang

wani (ts)        berani

wanita (ta)        wanita

wanodya (ta)        wanita

wanti-wanti (tk)        berpesan dengan sangat

wanuh (tk)        tahu, kenal

waos (ta)        gigi

waos (tk)        baca

wara-wara (ta)        pengumuman

warah (tk)        tunjuk/ajar

warak (ta)        badak

warangan (ta)        racun (biasanya dipakai untuk melumuri keris)

waranggana (ta)        penyanyi (dengan iringan gamelan)

warangka (ta)        kerangka, sarung keris

waras (ts)        sehat

wareg (ts)        kenyang

warèng (tg)        keturunan ke 5

warga (ta)        warga

wargi; wargi (ta)        warga

warih (ta)        banyu

waris (ta)        waris

waringuten (tkr)        kewalahan

warna (ta)        warna

warok (ta)        orang berilmu (daerah Madiun, Ponorogo, Tenggalek dan sekitarnya)

warsa (ta)        tahun

warta (ta)        berita

warung (ta)        warung

wasis (ta)        pandai

waskitha (ts)        waspada

waspa (ta)        air mata

waspada (ts)        waspada

wastani (tk)        kira, sangka; namakan, sebut

wastra (ta)        laut

watak (ta)        watak

watara (tkr)        kira-kira

watek (ta)        watak

wates (ta)        batas

waton (tkr)        asal-asalan; asalkan

watu (ta)        batu

wau (tg)        tadi

wawacan (ta)        bacaan

wawansabda (tk)        bercakap-cakap

wawas (tk)        pikir, timbang

wawasan (ta)        pikiran, pertimbangan

wayah (ta)        masa/waktu

wayah (ta)        cucu

wayang (ta)        wayang

wayu (ts)        basi

wayuh (tk)        diduakan (oleh suami)

wé (ta)        air

wédang (ta)        minuman hangat

wédang (ta)        air matang

wedhak (ta)        bedak

wedhar (tk)        urai, bahas

wedhi (ta)        pasir

wedi (ts)        takut

wedhon (t       hantu sawah

wédhok (ts)        perempuan

wedus (ta)        kambing

wegah (ts)        enggan

wekas (ta)        pesan

wekasan (ta)        akhir

wekdal; wekdal (ta)        waktu

wektu (ta)        waktu

welas (ta, tk)        rasa kasihan; merasa kasihan

welèh (tk)        balasan setimpal

weling (ta)        ular belang

weling (ta)        pesan

wenang (ts)        berwenang, berhak

wengku (tk)        memangku, menikahi (pria menikahi wanita)

wening (ts)        bening

wengi (tkr, tkr)        malam

wentis (ta)        betis

werdi (ta)        arti

werna (ta)        warna, jenis

weruh (tk)        nampak, tahu

wesi (ta)        besi

wèt (ta)        hukum

wetah ; wetah (ts)        utuh

wétan (tg)        timur

weteng (ta)        perut

weton (ta)        hari kelahiran

wetu (tk)        keluar

wewaler (ta)        pantangan

wéwé (ta)        hantu perempuan

wèwèh (tk)        memberi

wewengkon (ta)        daerah kekuasaan, wilayah

widada (ts)        selamat

widadara/i (ta)        bidadari laki-laki/perempuan

wigati (ts)        penting

wiji (ta)        biji; benih

wijik (tk)        mencuci tangan

wilang (tk)        hitung

wilangan (ta)        bilangan

wilujeng (tkr)        selamat

winarah (tk)        terjadi

wingènané (tg)        dua hari yang lalu

wingi (tg)        kemarin

wingit (ts)        angker

wingking; wingking (tkr)        belakang

winengku (tk)        disunting; diperistri

winisuda (tk)        diwisuda

winih (ta)        benih

wirama (ta)        irama

wirang (ts)        malu

wirid (ta)        kata atau kalimat pujian kepada Allah yang dibaca berulang-ulang

wiridan (ta)        pembacaan wirid

wiring galih (ta)        hitam (ayam jago)

wiron (ta)        bagian dari kain panjang yang dilipat memanjang bersusun yang akan

diletakkan di bagian terluar di depan pada saat kain panjang dikenakan

wiru (tk)        melipat bagian tepi kain panjang menjadi lipatan-lipatan kecil

memanjang bersusun

wis (tkr)        sudah

wisa (ta)        bisa, racun

wisik (ta)        bisikan, wahyu

wisma (ta)        rumah

wisuh (tk)        basuh tangan/kaki

wisuda (tk)        wisuda

wit (ta)        pohon

witikna (tpy)        salah sendiri; mengapa pula

wiwit (tk)        mulai

wondéné (tpy)        sedangkan

wong (ta)        orang

wos (ta)        arti

wos; wos (ta)        beras

wot (ta)        jembatan

wrangka (ta)        sarung keris

wré (ta)        kera

wréda (ta)        yua

wucal; wucal        ajar

wuda (tkr)        telanjang

wudhar (tk)        terurai

wudun (ta)        bisul

wukir (ta)        gunung

wulang        ajar

wulu (ta)        bulu

wulung (ta)        elang

wulung (ts)        ungu tua

wungkuk (ts)        bongkok

wungu (ts)        ungu

wungu: wungu (tk)        bangun

wuninga (ts)        tahu

wuri (tkr)        belakang

wuruk (tk)        tunjuk/ajar

wurung (tkr)        batal

wus (tkr)        sudah

wusana        akhir, kejadian

wuta (ts)        buta

wutah (tk)        tumpah

wutuh (ts)        utuh

wuwung (ta)        bubungan atap

wuwuh (tk)        tambah

wuwus (ta)        bicara, kata-kata

wuyung (ts)        kasmaran

Y

yasa (tk)        membuat

yamadipati (tg)        dewa kematian

yayah (ta)        ayah

yuyu (ta)        kepiting sungai

yayi (tg)        adik

yèn (tpy)        bila, jika

yuta (tw)        juta

yuswa (ta)        umur

yekti  (ts)        sungguh; benar

yuwana (ts)        selamat

yaksa (ta)        raksasa

yatra (ta)        uang

dieng adventure

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

KKL 2011

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 Konsep dan Makna Belajar
psh binta gunawan

Konsep dan Makna Belajar

1. Konsep Belajar.

Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Untuk menangkap isi dan pesan belajar, maka dalam belajar tersebut individu menggunakan kemampuan pada ranah-ranah :

a. Kognitif yaitu kemampuan yang berkenaan dengan pengetahuan, penalaran atau pikiran terdiri dari kategori pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

b. Afektif yaitu kemampuan yang mengutamakan perasaan, emosi, dan reaksi-reaksi yang berbeda dengan penalaran yang terdiri dari kategori penerimaan, partisipasi, penilaian sikap, organisasi dan pembentukan pola hidup.

c. Sikomotorik yaitu kemepuan yang mengutamakan keterampilan jasmani terdiri dari persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan dan kreativitas.

Belajar Menurut Pandangan Skiner.

Belajar menurut pandanag B.F.Skiner (1958) adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Menurut Skiner dalam belajar ditemukan hal-hal berikut :

1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar,

2. Respon si belajar,

3. Konsekwensi yang bersifat menggunakan respon tersebut,baik konsekwensinya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman.

Skinner menbagi dua jenis respon dalam proses belajar yakni :

1. respondents response yaitu respon yang terjadi karena stimuli khusus, perangsang-perangsang yang demikian ini mendahului respons yang ditimbulkannya.

2. operants conditioning dalam clasical condotioning menggambarkan suatu situasi belajar dimana suatu respons dibuat lebih kuat akibat reinforcement langsung yaitu respon yang terjadi karena situasi random.

Menurut Skinner mengajar itu pada hakekatnya adalah rangkaian dari penguatan yang terdiri dari suatu peristiwa dimana prilaku terjadi, perilaku itu sendiri, dan akibat perilaku.

Belajar Menurut Pandangan Robert M. Gagne

Menurut Gagne (1970), Belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebab oleh stimulasi yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Belajar terdiri dari tiga komponen penting yakni kondisi eksternal yaitu stimulus dari lingkungan dari acara belajar, kondisi internal yang menggambarkan keadaan internal dan proses kognitif siswa, dan hasil belajar yang menggambarkan informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif.

Robert M. Gagne mengemukakan delapan tipe belajar yang membentuk suatu hirarki dari paling sederhana sampai paling kompleks yakni :

1. belajar tanda-tanda atau isyarat (Signal Learning) yang menimbulkan perasaan tertentu, mengambil sikap tertentu,yang dapat menimbulkan perasaan sedih atau senang.

2. belajar hubungan stimulus-respons (Stimulus Response-Learning)dimana respon bersifat spesifik, tidak umum dan kabur.

3. belajar menguasai rantai atau rangkaian hal (Chaining Learning) mengandung asosiasi yang kebanyakan berkaitan dengan keterampilan motorik.

4. belajar hubungan verbal atau asosiasi verbal (Verbal Association) bersifat asosiatif tingkat tinggi tetapi fungsi nalarlah yang menentukan.

5. belajar mebedakan atau diskriminasi (Discrimination Learning) yang menghasilkan kemampuan membeda-bedakan berbagai gejala.

6. belajar konsep-konsep (Concept Learning) yaitu corak belajar yang menentukan ciri-ciri yang khas yang ada dan memberikan sifat tertentu pula pada berbagai objek.

7. belajar aturan atau hukum-hukum (Rule Learning) dengan cara mengumpulkan sejumlah sifat kejadian yang kemudian dalam macam-macam aturan.

8. belajar memecahkan masalah (Problem Solving) menggunakan aturan-aturan yang ada disertai proses analysis dan penyimpulan.

Inti dari pembelajaran tersebut adalah interaksi dan proses untuk mengungkapkan ilmu pengetahuan oleh pendidik dan peserta didik yang menghasilkan suatu hasil belajar.

Ada tiga aspek perkembangan intelektual yang diteliti oleh Jean Piaget yaitu :

1. Struktur, yaitu ada hubungan fungsional antara tindakan pisik, tindakan mental, dan perkembangan berpikir logis anak.

2. Isi, yaitu pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau masalah yang dihadapinya.

3. Fungsi, yaitu cara yanag digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual.

Dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa belajar dalam hal ini dapat mengandung makna sebagai perubahan struktural yang saling melengkapi antara asimilasi dan akomodasi dalam proses menyusun kembali dan mengubah apa yang telah diketahui melalui belajar.

Belajar Menurut Pandangan Carl R. Rogers

Menurut pendapat Carl R. Rogers (Ahli Psikoterapi) praktek pendidikan menitikberatkan pada segi pengajaran, bukuan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan siswa hanya menghafalkan pelajaran.

Langkah-langkah dan sasaran pembelajaran yang perlu dilakukan oleh guru menurut Rogers adalah meliputi : guru memberi kepercayaan kepada kelas agar kelas memilih belajar secara terstruktur, guru dan siswa membuat kontrak belajar, guru menggunakan metode inquiri atau belajar menemukan (discovery learning), guru menggunakan metode simulasi, guru mengadakan latihan kepekaan agar siswa mampu menghayati perasaan dan berpartisipasi dengan kelompok lain, guru bertindak sebagai fasilitator belajar dan sebaiknya guru menggunakan pengajaran berprogram agar tercipta peluang bagi siswa untuk timbulnya kreatifitas dalam belajar (Dimyati dan Mudjiono, 1999:17).

Jadi dapat ditegaskan belajar menurut Carl R. Rogers adalah untuk membimbing anak kearah kebebasan dan kemerdekaan, mengetahui apa yang baik dan yang buruk, dapat melakukan pilihan tentang apa yang dilakukannya dengan penuh tanggung jawab sebagai hasil belajar. Kebebasan itu hanya dapat di pelajari dengan memberi anak didik kebebasan sejak mulanya sejauh ia dapat memikulnya sendiri, hal ini dilakukan dalam konteks belajar.

Belajar Menurut Pandangan Benjamin Bloom

Keseluruhan tujuan pendidikan dibagi atas hirarki atau taksonomi menurut Benjamin Bloom (1956) menjadi tiga kawasan (dominan) yaitu : domain kognitif mencakup kemampuan intelektual mengenal lingkungan yang terdiri atas 6 macam kemampuan yang disusun secara hirarki dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analysis, sintesis dan penilaian; domain afektif mencakup kemampuan-kemapuan emosional dalam mengalami dan menghayati sesuatu hal yang meliputi lima macam kemampuan emosional disusun secara hirarki yaitu kesadaran, partisipasi, penghayatan nilai, pengorganisasian nilai, dan karakterisasi diri; domain psikomotor yaitu kemampuan-kemampuan motorik menggiatkan dan mengkoordinasikan gerakan terdiri dari : gerakan repleks, gerakan dasar, kemampuan perseptual, kemampuan jasmani, gerakan terlatih, dan komunikasi nondiskursif.

Jadi dapat ditegaskan bahwa belajar adalah perubahan kualitas kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk meningkatkan taraf hidupnya sebagai pribadi, masyarakat, maupun sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa.

Belajar Menurut Pandangan Jerome S. Bruner

Menurut Bruner (1960) dalam proses belajar dapat dibedakan dalam tiga fase yaitu : informasi, transpormasi dan evaluasi.Bruner mengemukan empat tema pendidikan, tema pertama mengemukan pentingnya arti struktur pengetahuan, tema kedua ialah tentang kesiapan (readines) untuk belajar, tema ketiga menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan, tema keempat ialah tentang motivasi atau keinginan untuk belajar, dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu.

Bruner menyimpulkan bahwa pendidikan bukan sekedar persoalan teknik pengelolaan informasi, bahkan bukan penerapan teori belajar dokelas atau menggunakan hasil ujian prestasi yang berpusat pada mata pelajaran.

Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program-Program Pendidikan

psh binta gunawan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Globalisasi dan pembangunan Iptek mengakibatkan perubahan-perubahan yang cepat dalam masyarakat pada berbagai bidang. Pendidikan di tuntut untuk membantu individu agar dapat mengikuti perubahan-perubahan sosial sepanjang hidupnya. Maka lahirlah konsep kehidupan seumur hidup. Pendidikan seumur hidup adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia.

B.  Perlunya Pendidikan Seumur Hidup

  1. Keterbatasan kemampuan pendidikan sekolah. Pendidikan sekolah ternyata tidak dapat memenuhi harapan masyarakat.
  2. Perubahan-perubahan masyarakat dan peranan-peranan sosial.
  3. Pendayagunaan sumber yang masih belum optimal.
  4. Perkembangan pendidikan luar sekolah yang pesat.

C.  Permasalahan

  1. Konsep dasar Pendidikan Seumur Hidup
  2. Pendidikan seumur hidup dalam berbagai perspektif
  3. Implikasi konsep pendidikan seumur hidup dalam program-program pendidikan.
  4. Beberapa kepentingan pendidikan seumur hidup.
  5. Strategi pendidikan seumur hidup.

D.  Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri atas 3 bab, yaitu :

Bab I         :   Pendahuluan

Bab II       :   Pembahasan

Bab III      :   Penutup

BAB II

PEMBAHASAN

Konsep pedidikan seumur hidup ini erat kaitannya dengan paham tentang waktu berlangsungnya pendidikan. Di dalam GBHN 1978 dinyatakan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat.

A.  Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup

Pembahasan tentang konsep pendidikan seumur hidup ini akan diuraikan dalam dua bagian yaitu ditinjau dari dasar teoritis/ religios dan dasar yuriditisnya.

  1. 1. Dasar Teoritis/ Religious

Konsep pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir.

Konsep pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :

أطلـبُ الِعلم ِمنَ المَهْدِ اِلىَ اللحْد

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahad”

2.   Dasar Yuridis

Konsep pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan negara yaitu melalui :

a.   Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :

~  pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang)

~  Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).

b.   UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut :

“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

c.   Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga, sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan”.

B.  Pendidikan Seumur Hidup dalam Berbagai Perspektif

Dasar pemikiran yang menyatakan bahwa long life education adalah sangat penting. Dasar pemikiran tersebut ditinjau dari berbagai aspek, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Tinjauan Ideologis

Pendidikan seumur hidup atau lifelong education akan memungkingkan seseorang mengembangkan potensi-potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya, sebab pada dasarnya semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak sama, khususnya untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan dan keterampilannya (skill).

  1. Tinjauan Ekonomis

Melalui pendidikan, merupakan cara paling efektif untuk keluar dari suatu lingkaran yang menyeret kepada kebodohan dan kemelaratan. Pendidikan seumur hidup dalam konteks ini memungkingkan seseorang untuk :

  1. Meningkatkan produktifitasnya
  2. Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber daya dimilikinya
  3. Memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih sehat dan menyenangkan
  4. Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya secara tepat, sehingga pendidikan keluarga menjadi sangat penting dan besar artinya.
  5. Tinjauan Sosiologis

Pada umumnya di negara-negara sedang berkembang ditemukan masih banyaknya para orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya pendidikan formal bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, banyak anak-anak mereka yang kurang mendapatkan pendidikan formal, putus sekolah atau tidak bersekolah sama sekali. Dengan demikian pendidikan seumur hidup kepada orang akan merupakan solusi dari masalah tersebut.

  1. Tujuan Filosofis

Di negara demokrasi, menginginkan seluruh rakyat menyadari pentingnya hak memilih dan memahami fungsi pemerintah, DPR, MPR dan sebagainya.

  1. Tinjauan Teknologis

Di era globalisasi seperti sekarang ini, tampaknya dunia dilanda oleh eksplosi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dengan berbagai produk yang dihasilkannya. Semua orang, tak terkecuali para pendidik, sarjana, pemimpin dan sebagainya dituntut selalu memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya seperti apa yang terjadi di negara maju.

  1. Tinjauan Psikologis dan Paedagogis

Perkembangan IPTEK sangat pesat mempunyai dampak dan pengaruh besar terhadap berbagai konsep, teknik dan metode pendidikan. Disamping itu, perkembangan tersebut juga makin luas, dalam dan kompleks, yang menyebabkan ilmu pengetahuan tidak mungkin lagi diajarkan seluruhnya kepada anak didik di sekolah.

Oleh karena itu, tugas pendidikan jalur sekolah yang utama sekarang ialah mengajarkan bagaimana cara belajar, menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus sepanjang hidupnya, memberikan skill kepada anak didik secara efektif agar dia mampu beradaptasi dalam masyarakat yang cenderung berubah secara cepat. Berkenaan dengan itulah, perlu diciptakan suatu kondisi yang merupakan aplikasi asas pendidikan seumur hidup atau lifelong education.

Demikian keadaan pendidikan seumur hidup yang dilihat dari berbagai aspek dan pandangan. Sebagai pokok dalam pendidikan seumur hidup adalah seluruh individu harus memiliki kesempatan yang sistematik, terorganisisr untuk belajar disetiap kesempatan sepanjang hidup mereka. Semua itu adalah tujuan untuk menyembuhkan kemunduran pendidikan sebelumnya, untuk memperoleh skill yang baru, untuk meningkatkan keahlian mereka dalam upaya pengertian tentang dunia yang mereka tempati, untuk mengembangkan kepribadian dan tujuan-tujuan lainnya.

Konseptualisasi pendidikan seumur hidup yang merupakan alat untuk mengembangkan individu-individu akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi masyarakat.

C.  Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program-Program Pendidikan

  1. Pendidikan baca tulis fungsional

Realisasi baca tulis fungsional memuat dua hal, yaitu :

  1. Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3 M) yang fungsional bagi anak didik.
  2. Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya
  3. Pendidikan Vokasional. Pendidikan vokasional adalah program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia.
  4. Pendidikan Profesional

Pendidikan dalam upaya mencetak golongan profesional yang mampu mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan.

  1. Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan

Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan

  1. Pendidikan Kewargenegaraan dan Kedewasaan Politik

Pendidikan dalam upaya penguasaan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara.

  1. Pendidikan Kultural dan pengisian waktu senggang

Pendidikan dalam upaya menciptakan masyarakat yang mampu memahami dan menghargai nilai-nilai agama, sejarah, kesusastraan, filsafat hidup, seni dan musik bangsa sendiri.

D.  Beberapa Kepentingan Pendidikan Seumur Hidup

Hal yang mendasari perlunya pendidikan seumur hidup :

  1. Pertimbangan ekonomi. Masih banyaknya masyarakat yang masih berada di bawah garis kemiskinan.
  2. Keadilan. Tuntutan akan adanya persamaan dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.
  3. Faktor peranan keluarga.
  4. Faktor perubahan peranan sosial
  5. Perubahan teknologi
  6. Faktor-faktor vocational
  7. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa
  8. Kebutuhan anak-anak awal

E.  Strategi Pendidikan Seumur Hidup

Adapun strategi dalam rangka pendidikan seumur hidup sebagaimana diinventarisir Prof. Sulaiman Joesoef, meliputi hal-hal berikut :

  1. Konsep-konsep Kunci Pendidikan Seumur Hidup
    1. Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri. Sebagaimana suatu konsep, maka pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan.
    2. Konsep belajar seumur hidup. Dalam pendidikan seumur hidup berarti pelajar belajar karena respons terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar.
    3. Konsep Belajar Seumur Hidup. Belajar seumur hidup dimaksudkan adalah orang-orang yang sadar tentang diri mereka sebagai pelajar seumur hidup, melihat belajar baru sebagai cara yang logis untuk mengatasi peroblema dan terdorong tinggi sekali untuk belajar di seluruh tingkat usia, dan menerima tantangan dan perubahan seumur hiudp sebagai pemberi kesempatan untuk belajar baru.
    4. Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup. Dalam konteks ini, kurikulum didesain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup.
    5. Arah Pendidikan Seumur Hidup

a. Pendidikan seumur hidup kepada orang dewasa

Sebagai generasi penerus, para pemuda ataupun dewasa membutuhkan pendidikan seumur hidup dalam rangka pemenuhan sifat “Self Interest” yang merupakan tuntunan hidup sepanjang masa. Diantaranya adalah kebutuhan akan baca tulis bagi mereka pada umumnya dan latihan keterampilan bagi pekerja.

b.  Pendidikan seumur hidup bagi anak

Pendidikan seumur hidup bagi anak, merupakan sisi lain yang perlu memperoleh perhatian dan pemenuhan oleh karena anak akan menjadi “tempat awal” bagi orang dewasa artinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pengetahuan dan kemampuan anak, memberi peluang besar bagi pembangunan pada masa dewasa. Dan pada gilirannya masa dewasanya menanggung beban hidup yang lebih ringan.

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :

–          Konsep pendidikan seumur hidup erat kaitannya dengan paham tentang waktu berlangsungnya pendidikan.

–          Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam kehidupan keluarga, sekolah dan masyarakat.

–          Pendidikan seumur hidup mencakup berbagai perspektif.

B.  Saran

Adapun saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah hendaknya setiap pembahasan diberikan berbagai macam contoh agar pembaca tidak hanya memahami teori serta memberikan pemahaman singkat dan jelas.

DAFTAR  PUSTAKA

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2003.

Mudyahardjo, Redja. Pengantar Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001.

Sabri, Alisu Drs. H.M. Ilmu Pendidikan. Jakarta : CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1999.

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

A. Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Asas pendidikan seumur hidup merumuskan bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses kontinu yang bermula sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Menurut GBHN 1978 dinyatakan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan masyarakat sehingga pendidikan seumur hidup merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Secara yuridis formal konsepsi pendidikan seumur hidup dituangkan dalam Tap MPR No. IV/MPR/1973 jo Tap MPR No. IV/MPR/1978 tentang GBHN, dengan prinsip-prinsip pembangunan nasional :
1. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (arah pembangunan jangka panjang).
2. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.
Konsepsi manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsepsi dasar tujuan pendidikan nasional (UU Nomor 2 tahun 1989 Pasal 4) yakni pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Tujuan Pendidikan Seumur Hidup
Tujuan pendidikan manusia seutuhnya dan seumur hidup
:
1. Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembaurannya seoptimal mungkin.
2. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.
B. Pendidikan Seumur Hidup Dalam Berbagai Perspektif
Dasar-dasar pemikiran long life education
1. Tinjauan ideologis
Setiap manusia hidup mempunyai hak asasi yang sama dalam hal pengembangan diri, untuk mendapatkan pendidikan seumur hidup untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan hidup.
2. Tinjauan ekonomis
Pendidikan seumur hidup dalam tinjauan ekonomi memungkinkan seseorang untuk :
a. Meningkatkan produktivitasnya
b. Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya
c. Memungkinkan hidup dalam lingkunganyang sehat dan menyenangkan
d. Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak secara tepat
3. Tinjauan sosiologis
Pendidikan seumur hidup yang dilakukan oleh orangtua merupakan solusi untuk memecahkan masalah pendidikan. Dengan orang tua bersekolah maka anak-anak mereka juga bersekolah.
4. Tinjauan Filosofis
Pendidikan seumur hidup secara filosofi akan memberikan dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara
5. Tinjauan Teknologis
Semakin maju jaman semakin berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologinya. Dengan teknologi maka pendidikan seumur hidup akan semakin mudah. Begitu pula sebaliknya.
6. Tinjauan Psikologis dan Paedagogis
Pendidikan pada dasarnya dipandang sebagai pelayanan untuk membantu pengembangan personal sepanjang hidup yang disebut development. Konseptualisasi pendidikan seumur hidup merupakan alat untuk mengembangkan individu-individu yang akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi masyarakat.
C. Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup pada Program-Program Pendidikan
Implikasi diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup.
Menurut W.P Guruge dalam buku Toward Better Educational Management, implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan adalah :
1. Pendidikan baca tulis fungsional
Pendidikan baca tulis sangatlah penting bagi masyarakat, baik negara maju maupun negara berkembang. Realisasi baca tulis fungsional memuat :
a. Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.
b. Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.
2. Pendidikan vokasional
Pendidikan vokasional sebagai program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah atau sebagai program pendidikan formal dan non formal dalam rangka ‘apprentice ship training merupakan salah satu program dalam pendidikan seumur hidup. Namun pendidikan vokasional tidak boleh dipandang sebagai jalan pintas tetapi tetap dilaksanakan secara kontinu.
3. Pendidikan profesional
Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup, dalam tiap profesi hendaklah tercipta built in mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi, dan sikap profesionalnya.
4. Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan
Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan seumur hidup.
5. Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik
Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik perlu diberikan dalam pendidikan seumur hidup bagi kehidupan berbangsa dan bernegara baik menjadi rakyat maupun pimpinan.
6. Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang
Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang perlu diberikan secara konstruktif sebagai bagian konsep long life education. Dengan cara ini waktu senggang dapat dimanfaatkan berbasis budaya yang baik sehingga pendidikan seumur hidup dapat berjalan menyenangkan.
D. Beberapa Kepentingan Pendidikan Seumur Hidup
Perlunya pendidikan seumur hidup dalam beberapa hal :
1. Pertimbangan ekonomi
Menurut pandangan tokoh pendidikan seumur hidup, pembentukan sistem pendidikan berfungsi sebagai basic untuk memperoleh ketrampilan ekonomis berharga dan menguntungkan. Tidak berarti mereka menekankan bahwa pendidikan seumur hidup akan dapat meningkatkan produktivitas pekerja dan akan meningkatkan keuntungan, tapi hal terpenting adalah untuk meningkatkan kualitas hidup, memperbesar pemenuhan diri, melepaskan dari kebodohan, kemiskinan, dan eksplorasi.
2. Keadilan
Keadilan dalam memperoleh pendidikan seumur hidup diusahakan oleh pemerintah. Dalam konteks keadilan pendidikan seumur hidup pada prinsipnya bertujuan untuk mengeliminasi pesanan sekolah sebagai alat untuk melestaikan ketidakadilan.
3. Faktor peranan keluarga
Coleman dalam “Review of Educational Research mengemukakan keluarga berfungsi sebagai sentral sumber pendidikan pada waktu silam. Pendidikan seumur hidup dapat memperlengkapi kerangka organisasi yang memungkinkan pendidikan mengambil alih tugas yang dulunya ditangani keluarga. Dalam masalah ini harus diperhatikan bahwa penekanan peranan pendidikn seumur hidup sebagai pembantu keluarga, berarti akan memperluas sistem pendidikan agar dapat menjangkau anak-anak awal dan orang dewasa.
4. Faktor perubahan peranan sosial
Pendidikan seumur hidup harus berisi elemen penting yang kuat dan memainkan peranan sosial yang amat beragam untuk mempermudah individu melakukan penyesuaian terhadap perubahan hubungan antara mereka/orang lain.
5. Perubahan teknologi
Pertumbuhan teknologi menyebabkan peningkatan penyediaan informasi yang berakibat pada meningkatnya usia harapan hidup dan menurunnya angka kematian. Semakin banyaknya tersedia kekayaan materi yang berakibat kenudiaan dan materialisme menjiwai nilai-nilai budaya dan spiritual serta berakibat pula kerenggangan dan keterasingan manusia satu dengan lainnya.
6. Faktor vocational
Pendidikan vocational diberikan untuk mempersiapkan tenaga kejuruan yang handal, trampil untuk menghadapi tantangan masa depan.
7. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa
Orang dewasa mengalami efek cepatnya perubahan dalam bidang ketrampilan yang mereka miliki, maka diupayakan sistem pendidikan yang mampu mendidik orang dewasa. Secara radikal perubahan pandangan mengenai kapan seseorang harus disekolahkan dan sekolah apa yang dalam hal ini memerlukan politik pendidikan seumur hidup.
8. Kebutuhan anak-anak awal
Para ahli mengakui bahwa masa anak-anak awal merupakan fase perkembangan yang mempunyai karakteristik tersendiri bukan semata-mata masa penantian untuk memasuki periode anak-anak, remaja dan dewasa.
Masa anak-anak awal merupakan basis untuk perkembangan kejiwaan selanjutnya meksipun dalam tingkat tertentu pengalaman-pengalaman yang datang belakangan dapat memodifikasi perkembangan yang pondasinya sudah diletakkan oleh pengalaman sebelumnya.
E. Strategi Pendidikan Seumur Hidup
Menurut Prof. Soelaiman Joesoef strategi dalam rangka pendidikan seumur hidup :
1. Konsep-konsep kunci pendidikan seumur hidup :
a. Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri
Pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan, yang meliputi seluruh rentangan usia ini.
b. Konsep belajar seumur hidup
Konsep ini menyatakan bahwa pelajar belajar karena respon terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan-angan pendidikan menyediakan kondisi-kondisi yang membantu belajar. Belajar menunjukkan kegiatan yang dikelola walaupun tanpa organisasi sekolah dan kegiatan ini justru mengarah pada penyelenggaraan asas pendidikan seumur hidup.
c. Konsep metode belajar seumur hidup
Sistem pendidikan (metode belajar) bertujuan membantu perkembangan orang-orang secara sadar dan sistematik respons untuk beradaptasi dengan lingkungan seumur hidup.
d. Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup
Kurikulum dirancang atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup yang praktis untuk mencapai pendidikan dan mengimplementasi prinsip-prinsip pendidikan seumur hidup.
2. Arah pendidikan seumur hidup
a. Pendidikan seumur hidup kepada orang dewasa
Pemuda atau orang dewasa memerlukan pendidikan seumur hidup dalam rangka pemenuhan self interest yang merupakan tuntutan hidup mereka self interest antara lain : kebutuhan baca tulis, latihan dan ketrampilan.
b. Pendidikan seumur hidup bagi anak
Pendidikan seumur hidup bagi anak merupakan hal yang sangat penting karena anak akan menjadi tempat awal bagi orang dewasa nantinya. Program yang kegiatan yang disusun buat anak antara lain : kecakapan baca tulis, ketrampilan dasar dan mempertinggi daya pikir anak sehingga memungkinkan anak terbiasa belajar berpikir kritis dan mempunyai pandangan kehidupan yang dicita-citakan.

KONSEP DAN IMPLIKASI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP

Bahwa manusia adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang. Ia ingin mencapai suatu kehidupan yang optimal. Selama manusia barusaha untuk meningkatkan kehidupannya, baik dalam meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, kepribadian, maupun keterampilannya, secara sadar atau tidak sadar, maka selama itulah pendidikan masih berjalan terus.

Pendidikan sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam dunia transformasi, dan di dalam masyarakat yang saling mempengaruhi seperti saat zaman globalisasi sekarang ini. Setiap manusia dituntut untuk menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan situasi baru.

Pendidikan sepanjang hayat merupakan jawaban terhadap kritik-kritik yang dilontarkan pada sekolah. Sistem sekolah secara tradisional mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan kehidupan yang sangat cepat dalam abad terakhir ini, dan tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tutuntutan manusia yang makin meningkat. Pendidikan di sekolah hanya terbatas pada tingkat pendidikan dari sejak kanak-kanak sampai dewasa, tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan dunia yang berkembang sangat pesat. Dunia yang selalu berubah ini membutuhkan suatu sistem yang fleksibel. Pendidikan harus tetap bergerak dan mengenal inovasi secara terus menerus.

Menurut konsep pendidikan sepanjang hayat, kegiatan-kegiatan pendidikan dianggap sebagai suatu keseluruhan. Seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem yang terpadu. Konsep ini harus disesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Suatu masyarakat yang telah maju akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan masyarakat yang belum maju. Apabila sebahagian besar masyarakat suatu bangsa masih yang banyak buta huruf, maka upaya pemeberantasan buta huruf di kalangan orang dewasa mendapat prioritas dalam sistem pendidikan sepanjang hayat. Tetapi, di negara industri yang telah maju pesat, masalah bagaimana mengisi waktu senggang akan memperoleh perhatian dalam sistem ini.

Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat .

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar kepribadian anak. Pendidikan anak diperoleh terutama melalui interaksi antara orang tua – anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua akan menunjukkan sikap dan perlakuan tertentu sebagai perwujudan pendidikan terhadap anaknya.

Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga.
Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya. Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentuyang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.

Pendidikan di masyarakat merupakan bentuk pendidikan yang diselenggarakan di luar keluarga dan sekolah. Bentuk pendidikan ini menekankan pada pemerolehan pengetahuan dan keterampilan khusus serta praktis yang secara langsung bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat. Phillip H.Coombs (Uyoh Sadulloh, 1994:65) mengemukakan beberapa bentuk pendidikan di masyarakat, antara lain : (1) program persamaan bagi mereka yang tidak pernah bersekolah atau putus sekolah; (2) program pemberantasan buta huruf; (3) penitipan bayi dan penitipan anak pra sekolah; (4) kelompok pemuda tani; (5) perkumpulan olah raga dan rekreasi; dan (6) kursus-kursus keterampilan.

Adalah satu kebutuhan vital bagi manusia dalam usaha mengembangkan diri serta mempertahankan eksistensinya adalah melalui belajar yang dilakukan sepanjang hayatnya. Tanpa belajar, manusia akan mengalami kesulitan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan maupun dalam memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan yang selalu berubah. Keharusan belajar sepanjang hayat sudah disepakati para pakar. Jauh sebelum itu, Islam adalah agama pertama yang merekomendasikan keharusan belajar seumur hidup. Rasulullah Muhammad SAW memotivasi umatnya dalam hadits: “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Tuntutlah ilmu sejak buaian sampai lubang kubur. Tiada amalan umat yang lebih utama daripada belajar”.

Belajar sepanjang hayat ini dikemukakan pula oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Development (ICED) atau Komisi Internasional Pengembangan Pendidikan. Sebagai ketua Komisi tersebut Edgar Faure mengatakan : With its confidence in man’s capacity to perfect himself through education, the Moslem world was among the first to recommend the idea of lifelong education, exhorting Moslem to educate themselves from cradle to the grave. (Faure, 1972, h.8)

Islam mewajibkan pemeluknya untuk belajar dan mengembangkan kemampuan nalarnya secara terus menerus bukan saja terhadap objek-objek di luar dirinya, tetapi juga terhadap kehidupannya sendiri baik sebagai perorangan maupun sebagai suatu komunitas.

Seperti dikemukakan oleh Andrias Harefa (2000) bahwa pembelajaran akan mampu membuat manusia tumbuh dan berkembang sehingga berkemampuan, menjadi dewasa dan mandiri. Manusia mengalami transformasi diri, dari belum/tidak mampu menjadi mampu atau dari ketergantungan menjadi mandiri. Dan, transformasi diri ini seharusnya terus terjadi sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar, asal ia tetap menyadari keberadaannya yang bersifat present continuous, on going process, atau on becoming. Persoalannya adalah, sebagian besar manusia tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar tanpa henti. Sebagian besar manusia berhenti belajar setelah merasa dewasa. Sikap gede rasa ini umumnya disebabkan oleh kebodohan yang bersifat sosial dan mental / psiko-spiritual. Sebagian orang merasa telah dewasa karena telah berusia di atas 17 atau 21, atau telah selesai sekolah atau kuliah, telah memiliki gelar akademis, telah memiliki pasangan hidup, telah memiliki pekerjaan dan jabatan yang memberinya nafkah lahiriah. Hal-hal itu telah membuat mereka berhenti belajar, sehingga tidak lagi mengalami transformasi-transformasi dalam kehidupannya, sehingga mereka tidak siap mengantisipasi perubahan-perubahan yang timbul. Sebaliknya bagi mereka yang senantiasa menjadikan proses belajar merupakan bagian dari kehidupannya mereka akan senantiasa siap mengantisipasi perubahan yang timbul atau bahkan perubahan yang diperoleh mereka sebagai akibat langsung dari proses belajar yang senantiasa mereka lakukan. Konsekwensi perubahan yang terjadi akan menjadi titik tolak bagi mereka untuk senantiasa terus belajar – on becoming a learner istilah yang dipakai Andrias Harefa- untuk selalu siap mengantisipasi perubahan yang akan muncul lagi sebab perubahan merupakan sesuatu yang abadi, selamanya akan muncul on and on.

Kegiatan pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok diantaranya kegiatan yang terjadi pada jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah.

Pada jalur pendidikan luar sekolah, sejak kehadirannya, kegiatan pembelajaran kelompok menjadi ciri utama. Dalam perkembangannya, kegiatan pembelajaran dalam pendidikan luar sekolah telah memperoleh dukungan dari berbagai teori pembelajaran dan dari pengalaman para praktisi di lapangan sehingga muncul kegiatan pembelajaran partisipatif. Dewasa ini pembelajaran partisipatif tidak saja digunakan dalam program-program pendidikan luar sekolah tetapi juga di beberapa kawasan di dunia ini, dan telah diserap serta diterapkan pada program-program pendidikan sekolah. Dengan demikian pembelajaran partisipatif telah menjadi bagian dari strategi pembelajaran yang dapat digunakan dan dikembangkan di dalam proses pendidikan baik di satuan pendidikan sekolah maupun satuan pendidikan luar sekolah.

Upaya penerapan pembelajaran partisipatif pada pendidikan sekolah dapat dipertegas dengan menekankan peranan pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar secara aktif dan partisipatif. Keterlibatan pendidik dapat meliputi dua hal penting, diantaranya, pertama, dalam penyusunan dan pengembangan program belajar serta yang kedua, dalam upaya menumbuhkan kondisi supaya peserta didik melakukan kegiatan belajar partisipatif. Keterlibatan dalam penyusunan dan pengembangan program pembelajaran, pendidik bersama peserta didik melakukan asesmen kebutuhan belajar; identifikasi sumber-sumber dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran; menyusun tujuan belajar, menetapkan komponen dan proses pembelajaran, serta melaksanakan dan menilai program pembelajaran. Keterlibatan pendidik dalam menumbuhkan situasi belajar yang kondusif bagi peserta didik untuk belajar meliputi upaya menciptakan iklim belajar yang partisipatif. Knowles mengemukakan ada tujuh langkah pendidik yang dapat membantu peserta didik untuk belajar partisipatif. Ketujuh langkah tersebut adalah membantu peserta didik untuk: (1) menumbuhkan keakraban yang mendorong untuk belajar, (2) menjadi anggota kelompok dan belajar dalam kelompok, (3) mendiagnosis kebutuhan belajar, (4) merumuskan tujuan belajar, (5) menyusun pengalaman belajar, 6) melaksanakan kegiatan belajar, dan (7) melakukan penilaian terhadap proses, hasil, dan pengaruh belajar.

Produk dari suatu proses pembelajaran baik pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah adalah perubahan tingkah laku peserta didik selama dan setelah mengikuti proses pembelajaran. Perubahan perilaku tersebut mencakup ranah (domain) afektif, kognitif, dan psiko-motorik serta konatif. Ranah afektif adalah sikap dan aspirasi peserta didik dalam lingkungannya melalui tahapan penerimaan stimulus, respons, penilaian, pengorganisasian, dan karakterisasi diri dalam menghadapi stimulus dari lingkungan. Ranah Kognitif adalah kecakapan peserta didik yang diperoleh melalui pengetahuan, pemahaman, penggunaan, analisis, sintesis, dan evaluasi terhadap sesuatu berdasarkan asas-asas dan fungsi kelimuan. Asas keilmuan yang objektivitas, observabilitas, dapat diukur, dan bernilai guna, sedangkan fungsi keilmuan adalah menggambarkan, menjelaskan, memprediksi, dan mengandalkan. Psiko-motorik atau skills adalah penguasaan dan penggunaan sesuatu keterampilan melalui tahapan rangsangan, kesiapan merespons, bimbingan dlam melakukan respons, gerakan mekanik, respons yang lebih kompleks, adaptasi, dan melakukan sendiri. Tegasnya perubahan tingkah laku peserta didik dalam ranah afektif, kognitif, psiko-motorik, dan konatif merupakan produk pembelajaran.

PERAN TENAGA PLS MERUPAKAN SALAH SATU UPAYA MENUNTASKAN WAJIB BELAJAR 9 TAHUN

BAGI MASYARAKAT DESA TERTINGGAL

binta gunawan (1201410035)

Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Depdiknas dan mencari strategi upaya penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah yang rumahnya jauh dari SLTP pada kawasan desa tertinggal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan naturalisme kualitatif bagi masyarakat desa tertinggal di desa Tambaba, Kecamatan Gunung Purai, Kabupaten Barito Utama, Kalimantan Tengah. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Dikmas Depdiknas baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten dan propinsi harus menyediakan lebih banyak tenaga-tenaga profesional di bidangnya seperti sarjana PLS dan Diploma; (2) dalam mendirikan SLTP-Terbuka, sebaiknya tidak satu lokasi dengan paket B karena programnya menjadi tumpang tindih; (3) Dikmas Depdiknas selaku ujung tombak selama ini tak mampu berperan banyak bagi masyarakat; dan (4) Salah satu upaya penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah yang rumahnya jauh dari SLTP adalah penyediaan asrama siswa di setiap kecamatan yang memiliki desa tertingal.

Kata kunci : wajar dikdas, SMP-Terbuka, Paket B, Tenaga PLS, masyarakat tertinggal.

1. Pendahuluan

Dalam pembangunan sekarang, masih ditemukan berbagai kesenjangan di masyarakat. Yang antara lain disebabkan oleh faktor kondisi geografis ataupun sosial budaya, sehingga dapat menyebabkan ketertinggalan dalam berbagai hal. Salah satu di antaranya yang kita bahas sekarang ialah ketertinggalan masalah pendidikan jalur luar sekolah yang bila tidak segera diatasi, ketertinggalan di bidang pendidikan tetap selalu muncul. Namun, dalam postulat yang ada bagi masyarakat desa tertinggal selama ini, belum dirasakan rendahnya pendidikan dapat berakibat suramnya masa depan mereka. Dengan demikian, tanpa peningkatan pendidikan, baik jalur sekolah maupun luar sekolah maka kualitas SDM kita tidak akan meningkat.

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1) dan (2) serta Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional, secara tegas telah diatur oleh pemerintah tentang jenis dan jalur pendidikan. Lebih lanjut dalam pasal 10 ayat (3) Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah, melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Dengan demikian, kita semua perlu dan terpanggil untuk turut melaksanakan amanat tersebut. Strategi menuntaskan wajib belajar 9 tahun bagi masyarakat desa tertinggal, perlu kita kaji permasalahannya dan dicari berbagai jalan penuntasannya.

Konsep pembangunan lima tahun kita sekarang di bidang pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa dan kualitas sumber daya manusia (SDM), mengembangkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, budi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, keahlian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, serta kepribadian yang mantap dan mandiri. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan, wawasan keunggulan, kesetiakawanan sosial, dan kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi masa depan. Pendidikan nasional perlu ditata, dikembangkan, dan dimantapkan secara terpadu dan serasi, baik antarjalur, jenis, dan jenjang pendidikan maupun antarsektor pendidikan yang makin berkembang, efektif dan efisien, serta meningkatkan, mengutamakan pemerataan, dan peningkatan kualitas pendidikan dasar, perluasan dan peningkatan kualitas pendidikan kejuruan, pendidikan profesional serta pendidikan keterampilan, dan meningkatkan pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun. Masyarakat sebagai mitra pemerintah harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan kebutuhan, serta perkembangan pembangunan bangsa sekarang dan masa datang. Namun bila kesadaran mereka belum tumbuh, maka pemerintah harus berperan aktif dalam menuntaskannya.

2. Kajian Teori

Untuk menghindari kesalahpahaman pengertian di atas, maka akan diuraikan beberapa pengertian atau peristilahan, sebagai berikut.

Strategi pembangunan menurut Hasan Shadily (1984) bahwa tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan dasar seluruh penduduk dalam kurun waktu satu generasi, yaitu menjelang tahun 2000. Untuk mencapai tujuan ini, rangkaian sasaran menyangkut jasa-jasa umum, termasuk penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan. Strategi pembangunan yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan dasar bagi seluruh penduduk yang memerlukan perubahan sosial dan struktur yang mendalam untuk mencapat sasaran yang diinginkan.

Apa sebenarnya pengertian strategi pendidikan luar sekolah. Menurut Prof. Harsono (1997) dalam makalahnya di seminar nasional PLS dan Konferensi ISPPSI di Surabaya, bahwa ada hubungan erat antara peningkatan mutu sumber daya manusia dengan pembangunan telah dimengerti, dipahami, dan diterima oleh banyak pihak. Namun, dalam menentukan prioritas pelaksanaannya, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, salah satunya ialah faktor lingkungan strategis termasuk potensi tantangan dan peluang yang ada di dalamnya. Memasuki abad XXI bangsa Indonesia dihadapkan pada fenomena lingkungan internasional, regional, dan nasional.

Sedangkan menurut Prof. Djudju Sudjana (1997) dalam seminar nasional PLS di Surabaya menguraikan agar dalam strategi meningkatkan peran PLS, SDM Indonesia siap menjadi pelaku yang memiliki daya saing komparatif, perlu memiliki sasaran yang jitu bagi para perencana pendidikan.

Adapun pengertian strategi PLS menurut H.M.Norsanie Darlan (1996) suatu rencana yang cermat mengenai kegiatan pendidikan untuk mencapai sasaran. Sedangkan menurut Prof. Santoso S. Hamodjojo (1998) strategi PLS adalah untuk meletakkan sistem yang tangguh untuk menangani pendidikan sepanjang hidup, dengan jalur insidental, informal, nonformal dan formal bagi semua warga negara untuk menggalang masyarakat gemar belajar yang beradab dan demokratis (madani).

Menuntaskan, diambil dari istilah bahasa dengan asal kata tuntas (Moeliono, 1989). Yakni suatu kegiatan pendidikan bagi seseorang untuk menuntaskan atau menghabiskan (mencurahkan semua) masa pendidikan di sekolah atau pun di luar sekolah sehingga kualitas SDM semakin tahun semakin meningkat.

Kendala dalam penuntasan wajib belajar 9 tahun erat hubungannya dengan faktor sosial ekonomi dan budaya. Sebagian besar orang tidak mampu menyekolahkan anaknya karena ekonominya lemah (miskin). Apalagi sejak terjadinya krisis moneter dan krisis ekonomi melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Hal ini menyebabkan semakin banyak penduduk menjadi miskin, jumlah orang miskin bertambah dari 20 juta sebelum krisis dan sekarang mencapai hampir 80 juta orang. Menurut Sanapiah Faisal (1998) hal tersebut berakibat banyak tenaga kerja yang di PHK, sehingga berdampak negatif pula terhadap penuntasan wajib belajar 9 tahun khususnya anak usia pendidikan dasar.

Wajib Belajar adalah suatu tuntutan zaman yang harus dilaksanakan kepada seluruh bangsa Indonesia baik laki-laki maupun perempuan; usia sekolah 7 – 15 tahun mapun bagi mereka yang karena sesuatu hal sehingga tidak ada kesempatan mengikuti pendidikan formal. Oleh karena itu, mereka harus di tolong dengan pendidikan luar sekolah.

Harsono (1997) mengartikan masyarakat dari 2 bahasa asing yakni (1) Dalam bahasa Arab yaitu Syrk yang artinya sekelompok manusia saling bergaul di suatu tempat dengan berbagai kesamaan. Kedua, bahasa Inggris Society yang artinya sekumpulan manusia saling berinteraksi dalam suatu wilayah tertentu dengan berbagai kesamaan satu sama lainnya.

Pendapat tokoh lain seperti Poerwadarminto (1986) dan Moeliono (1989) mengartikan masyarakat adalah sekumpulan orang dalam arti seluas-luasnya terikat dalam kebudayaan yang dianggap sama. Misalnya terpelajar, cendekiawan, pedagang, pegawai, pengusaha, petani, nelayan dll. Dalam penjelasan lain masyarakat ada yang tinggal di kota dan di desa. Masing-masing istilah ini memiliki kekhassan tersendiri satu sama lainnya.

3. Masyarakat Desa Tertinggal

Arti masyarakat desa adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. Sedangkan arti tertinggal/terpencil adalah terpisah dengan yang lain (Poerwadarminta, 1986 dan Anton M. Moeliono, dkk, 1989). Dengan demikian yang dimaksud masyarakat desa tertinggal adalah mereka berada jauh dari pembangunan kota, karena ketertinggalan tersebut sehingga sulit mengikuti perkembangan pembangunan, termasuk ketertinggalan dalam dunia pendidikan.

(2) Pada dasarnya rata-rata pendidikan dan pengetahuan masyarakat desa tertinggal relatif rendah. Demikian juga jiwa/semangat kewiraswastaan ini sudah jarang dijumpai (A.J. Nihin, 1990). Karena itu, kepada mereka perlu diperkenalkan pertimbangan-pertimbangan antara faktor out-put dan input dalam setiap usaha produksi, namun dalam bentuk yang sederhana dan terjangkau oleh pikiran masyarakat. Hal ini perlu dengan contoh, bukti, atau semacamnya.

Untuk lebih mendalami arti pendidikan luar sekolah (Non Formal Education) menurut Prof. H.M. Sudomo (1974) adalah setiap kegiatan pendidikan yang diorganisir di luar sistem pendidikan formal, baik dilakukan sebagai kegiatan yang lebih luas untuk memenuhi kebutuhan pelajar (Clientele) dalam mencapai tujuan belajar.

Pengertian pendidikan nonformal menurut Depdiknas adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk perkembangan kepribadian serta kemampuan anak luar sekolah atau tepatnya di luar sistem persekolahan sebagaimana yang kita kenal sekarang.

PLS menurut Prof. Dr.H. Sutaryat Trisnamansyah (1997) adalah konsep pendidikan sepanjang hayat yang mengandung karakteristik, bahwa pendidikan tidak berakhir pada saat pendidikan sekolah selesai ditempuh oleh seorang individu, melainkan suatu proses sepanjang hayat, mencakup keseluruhan kurun waktu hidup seorang individu sejak lahir sampai mati. Pendidikan sepanjang hayat bukan hanya pendidikan orang dewasa, yang dimulai manakala seorang individu telah menyelesaikan pendidikan sekolah hingga berusia dewasa.

Pengertian pendidikan secara umum menurut Prof. H. Fuad Ihsan (1996) bahwa pedagogy atau ilmu pendidikan ialah penyelidikan, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik.

Pendidikan bagi kehidupan umat manusia merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan mustahil suatu kelompok manusia dapat maju berkembang sejalan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera, dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka. Soelaiman Joesoef dan Slamet Santoso (1981) menguraikan PLS sebagai upaya menolong masyarakat untuk mencapai kemajuan sosial ekonomi, agar mereka dapat menduduki tempat yang layak dalam dunia modern. Pendidikan ini jelas ditujukan kepada masyarakat dan daerah yang terbelakang agar masyarakat dan daerah ini dapat menyamai daerah lain yang tidak terbelakang.

4. Keadaan di Lapangan

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan keterampilan di semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan peran serta masyarakat, termasuk pendidikan di lingkungan keluarga dan masyarakat terus dikembangkan secara merata di seluruh tanah air dengan memberikan perhatian khusus kepada keluarga yang kurang mampu, penyandang cacat, dan yang bertempat tinggal di daerah terpencil/tertinggal di Kalimantan Tengah, sehingga makin meningkatkan kualitas serta jangkauannya. Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa mendapat perhatian dan pelayanan lebih khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya tanpa mengabaikan potensi peserta didik lainnya.

Pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, PLS, dan pendidikan kejuruan harus terus ditingkatkan pemerataan, kualitas, dan pengembangannya untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional serta kemampuan kepemimpinan yang tanggap terhadap kebutuhan pembangunan serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), berjiwa penuh pengabdian dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara. Kehidupan kampus dikembangkan sebagai lingkungan ilmiah yang dinamis sesuai dengan disiplin ilmu dan profesional, yang berwawasan budaya bangsa, bermoral Pancasila, dan berkepribadian Indonesia. Perguruan tinggi terus diusahakan untuk lebih mampu menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengkajian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memberikan pengabdian kepada masyarakat yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan sejalan dengan iklim yang makin demokratis yang mendukung kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi perguruan tinggi (GBHN’ 1999).

Pidato tertulis Mendikbud RI dalam rangka hari pendidikan nasional (Hardiknas, 2 Mei 1997) patut pula kita mengungkapkan rasa syukur yang mendalam bahwa ternyata hasil-hasil pembangunan yang telah kita capai selama ini, sangat menggembirakan. Kemajuan pendidikan di tanah air kita, menunjukkan peningkatan yang sangat pesat. Terutama dilihat dari kesempatan pendidikan yang semakin meluas pada semua jenis dan jenjang serta jalur pendidikan. Lebih-lebih kita telah berhasil meningkatkan program nasional wajib belajar pendidikan dasar dari 6 tahun menjadi 9 tahun sejak tahun 1994. Dengan tantangan globalisasi, kita harus menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Pada akhir Pelita VII diharapkan anak usia 15 tahun telah bersekolah pada jenjang SLTP (Wardiman, 1997). Pembangunan di negeri kita dirasakan sangat banyak kendala dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai bahan pemikiran kita bersama, berikut ini data dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Nasional Kalimantan Tengah (Bidang Dikmas) tahun 1997/1998 tentang lulusan sekolah dasar dan yang tertampung di SLTP

Menilik ke belakang, salah satu contoh dari data retrospektif dalam tabel di atas, anak lulusan SD dari Kabupaten/Kota Palangka Raya (Kalteng) tahun 1997/1998 sebanyak 30.700 siswa, dan yang tertampung di SLTP 19.879 siswa (64,7 persen). Dengan demikian, murid SD yang putus sekolah di Kalimantan Tengah sebesar 10.821 (5,2 persen). Mereka tersebar di wilayah kabupaten/kota Kalimantan Tengah yaitu: 1.081 siswa (9,9 persen) di Batara; 952 siswa (8,7 persen) di Barito Selatan; 3.071 siswa (28,3 persen) di Kabupaten Kapuas; 3.124 siswa (28,8 persen) di Kotawaringin Timur; 1.938 siswa (17,9 persen) di Kotawaringin Barat; serta 655 siswa (6,0 persen) di kota Palangka Raya. Angka-angka tersebut akan menurun kalau ada strategi, metoda, dan teknik penempatan tenaga yang sesuai dengan bidangnya. Baik dari tingkat kecamatan, kabupaten sampai di tingkat propinsi.

Dalam kaitan ini, kita hendaknya terus berusaha untuk melakukan upaya-upaya terobosan guna meningkatkan jumlah tempat-tempat belajar baru, agar seluruh kelompok umur 7-15 tahun dapat tertampung. Di antara terobosan yang telah dikembangkan selama ini untuk menuntaskan program wajib belajar adalah (a) belajar melalui SLTP terbuka, (b) penyelenggaraan pendidikan luar sekolah melalui kejar paket A setara sekolah dasar (SD) dan kejar paket B setara SLTP, serta (c) upaya memanfaatkan teknik-teknik pendidikan jarak jauh, melalui media cetak maupun elektronik. Bahkan sudah ada juga paket C untuk setara SMU, namun kebutuhan itu harus mampu merealisasi pada lapisan yang lebih bawah.

Perencanaan pengadaan alat fasilitas/sarana penunjang berupa tenaga, sarana dan prasarana. Perencanaan sarana penunjang baru dapat dilakukan setelah pola perintisan dengan menggunakan perangkat lunak seperti kurikulum, buku paket, modul, kaset, video, radio dll (Winarno Hani Seno 1990).

Guna mendukung keberhasilan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun dan upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan, jalinan kerjasama antara tokoh-tokoh masyarakat (toma) tokoh-tokoh agama (toga) dan orang tua dengan pemerintah, hendaknya juga terus ditingkatkan. Hal ini penting karena tugas pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan orang tua siswa. Tanpa keterlibatan semua pihak, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa niscaya tidak akan berhasil dengan baik. Hal ini menurut Wardiman (1997) sangat pentingnya peran pemerintah daerah untuk menyukseskan program pendidikan nasional. Menurut Prof. Dr. H. Abdul Azis Wahab, MA (2000) ada kekeliruan strategi pembangunan dewasa ini. Strategi yang dijalankan pada pelita-pelita lalu lebih mengutamakan sektor ekonomi di garis depan. Sementara menurut ahli perbandingan pendidikan pemerintah Malaysia dan Jepang mengutamakan sektor pendidikan di garis depan. Sebagai bukti dapat kita lihat bahwa 2 atau 3 pelita silam warga Malaysia belajar di Indonesia dalam ilmu pendidikan, kedokteran, dan bahkan mereka berani mendatangkan tenaga-tenaga dosen bidang MIPA. Dalam tahun-tahun belakangan ini, ternyata negeri mereka jauh lebih maju dibanding pembangunan kita. Tidak sedikit pemuda kita yang belajar ke Malaysia di berbagai Universitas dan akademi. Termasuk tahun akademi 1997/98 penulis sendiri mengikuti seleksi di Malaya University dalam tawaran masuk ke rancangan ijazah tinggi. Dan di panggil sebagai mahasiswa di negeri jiran untuk memperoleh ijazah Doktor Falsafah (Ph.D). Namun karena negeri kita khususnya Kalimantan Tengah, kota Palangka Raya diselimuti asap tebal, penerbangan terhenti dalam beberapa minggu, sehingga surat panggilan terlambat 54 hari dari batas terakhir pendaftaran.

Di pihak lain sambutan Mendikbud RI, mengetuk hati kita bersama yang sekarang sedang membangun dengan melaksanakan program-program perluasan pendidikan. Menurut Wiranto Arismunandar (1998) bahwa jumlah murid sekolah dasar dan Madrasah Ibtidaiyah baru mencapai sekitar 7,5 juta anak atau 41 persen dari jumlah anak usia sekolah sekolah dasar 1998. Pada tahun 1984 jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 23 juta anak, atau 97 persen. Keberhasilan ini serta laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang cenderung makin cepat mendorong kita untuk mencanangkan Gerakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 6 tahun pada tahun 1984. Selanjutnya, kita melangkah lebih maju lagi dengan melaksanakan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, yang dicanangkan tanggal 2 Mei 1994. Sesuai dengan Instruksi Presiden RI pada pembukaan rapat kerja nasional Departemen Pendidikan Nasional di Istana Negara pada tanggal 22 Mei 1996, program tersebut harus dapat diselesaikan pada akhir Pelita VII. Mudah-mudahan krisis moneter yang melanda negeri kita tercinta, tidak berpengaruh besar dalam pembangunan bidang pendidikan.

Di Indonesia pendidikan nonformal/pendidikan luar sekolah dikonsepkan bahwa setiap kesempatan di mana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, di mana seseorang memperoleh informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta aktif yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarganya, pekerjaanya bahkan lingkungan masyarakat negaranya (Sudomo, 1974, Sanapiah Faisal 1981). Sedangkan penulis mengambil pengertian tentang pendidikan luar sekolah yaitu suatu pendidikan tak terpisahkan dengan pendidikan formal, namun pelaksanaannya dilakukan di luar sistem persekolahan di antaranya berbagai kegiatan penyuluhan guna menunjang di berbagai bidang pembangunan bangsa (M.Norsanie Darlan, 1983).

Dengan demikian PLS mempunyai tugas berat dalam memberdayakan masyarakat mulai usia 14 – 45 tahun di luar sekolah yang menjadi sasaran didiknya. Sehingga pendidikan harus memberikan berbagai kebutuhan masyarakat setempat. Menurut: H. Djudju Sudjana (2000) bahwa PLS sangat berkembang bagi masyarakat industri. Bila kita berpikir secara prospektif, maka dari sekarang kita mulai bergerak agar tidak tertinggal dari negara lain.

Dalam kesempatan ini, kita menilik terhadap kehidupan masyarakat dengan pola perladangan/pertanian yang dilakukan masyarakat desa tertinggal. Kegiatan yang mereka lakukan dalam berladang dimulai dari menebas, menebang hutan, dan kemudian membakar. Namun, perlu digarisbawahi bahwa membakar hutan (hasil penelitian tahun 1997 sampai awal 1998), ternyata di musim kemarau panjang, belum ditemukan petani membakar hutan untuk perladangan mereka. Pembakaran terjadi oleh mereka, setelah hujan turun beberapa kali, mereka sudah menguasai ilmu falak, dengan melihat posisi bintang. Oleh para tokoh masyarakat (toma) setempat dengan melihat keadaan bintanglah baru menentukan pembakaran ladang yang akan digarap. Dan cara membakar lokasi sudah mereka persiapan dengan membersihkan di sekelilingnya. Sehingga pembakaran hutan dan asap tebal di musim kemarau dari hasil penelitian penulis tidak seluruhnya benar oleh masyarakat peladang berpindah. Mereka sudah mengerti dampak/akibat dari pembakaran tersebut bagi habitat lingkungan di sekeliling mereka (H.M.Norsanie Darlan, 2000).

Mereka yang dimaksud masyarakat desa tertinggal adalah bermukim di bukit-bukit, tepian sungai, di lembah, danau, kawasan pantai, dan sebagainya. Semuanya mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam bidang pendidikan. Dalam strategi PLS untuk menuntaskan Wajar Dikdas 9 tahun, Dikmas tingkat kecamatan sebagai ujung tombak. Bila penempatan tenaga PLS tidak pada bidangnya, maka upaya pemerintah tidak akan segera terwujud.

Sedangkan ciri PLS secara spesifik menurut Saleh Marzuki (1981) adalah (1) progam jangka pendek; (2) tidak dibatasi oleh jenjang-jenjang; (3) Usia didiknya tidak perlu sama/homogen; (4) sasaran didiknya beriorientasi jangka pendek dan praktis; (5) Diadakan sebagai respon kebutuhan yang mendesak; (6) Ijazah biasanya kurang memegang peran penting; (7) dapat diselenggarakan pemerintah dan swasta; (8) dapat diselenggarakan di dalam dan di luar kelas.

Dalam hal ini, mungkin timbul bertanyaan mengapa di perguruan tinggi ada jurusan atau program studi PLS? Padahal di lain pihak pendidikan tersebut diselenggarakan di luar sistem persekolahan. Sebagian perguruan tinggi sejak lama telah menyelenggarakan PLS. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli pembangunan bidang PLS. Mahasiswa yang dididik pada jurusan atau program studi PLS adalah dididik dalam jalur pendidikan formal. Namun, sistem berfikir mahasiswa di luar sistem persekolahan. Seperti mengenal tuna aksara latin dan angka, ini konsep “tempoe doeloe”. Sekarang mahasiswa lebih dititikberatkan pada masalah yang lain yaitu bagaimana agar warga masyarakat mampu menghadapi tantangan lebih jauh ke depan pada era globalisasi untuk berwiraswasta, mengenal berbagai kursus keterampilan, dan berbagai bentuk pendidikan di luar sistem persekolahan. Misalnya Bordir, Mejahit, Tata Rias, Pertanian, Elektronika, Jurnalistik, Komputer, pendidikan dan latihan berbagai cabang olahraga, penyuluhan kesehatan, KB, pertanian, sampai kursus berbagai bahasa dll (Oong Komar, 2000). Harapan masyarakat menurut Yus Darusman (2000) adalah aktivitas PLS melalui peran kelompok belajar masyarakat sebagai kelompok pengubah dan kelompok penyebar. Dampak perilaku moral ekonomi masyarakat tampil sebagai masyarakat yang maju, padat keterampilan, padat karya, padat usaha, padat kesejahteraan. Hal ini di selenggarakan oleh masyarakat, LSM, Dinas, dan instansi pemerintah. Karena tidak tuntas akibat dari ledakan penduduk berdampak menimbulkan kemiskinan dalam dunia pendidikan. Salah satu diantaranya ditutupnya kran-kran PLS di berbagai tempat dengan alasan yang tidak jelas di zaman orde baru. Sehingga di sana-sini munculnya anak jalanan, para galandangan, dan berbagai masalah sosial yang membuat pusing bagi pihak si penutup kran itu sendiri, dan siapa pembinannya? Penulis berasumsi bahwa sebagai dampak ditutupnya kran PLS sejak tahun akademi 1987/88, terjadinya kendala dalam penuntasan wajib belajar yang cukup berarti. Yang paling menyedihkan bagi lembaga yang ditugasi menuntaskan wajib belajar itu adalah menerima tenaga-tenaga di luar profesinya. Sehingga bukan teori andragogy yang diterapkan pada warga masyarakat, melainkan sebaliknya. Jadi keterampilan dalam berkomunikasi sebagai ahli PLS kepada warga masyarakat tidak bisa hanya belajar dalam 2, 3 bulan. Melainkan memerlukan cukup waktu, cukup SKS dan cukup praktik lapangannya. Sebab di masyarakat mereka tidak perlu banyak komentar, melainkan melihat bukti dan kenyataan.

Sekarang sarjana PLS sebelum diyudisium harus memiliki keterampilan (Skill) tertentu yang diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri di masyarakat. PLS adalah satu dari dua jalur pendidikan di Indonesia yang memiliki peran besar di masa depan. Sehingga sangat aneh, bila melihat calon mahasiswa S-2 dan S-3 PLS berdatangan dari bidang-bidang ilmu lain tidak terbatas dalam jurusan pendidikan semata, melainkan ilmu-ilmu nonkependidikan karena mereka tahu cerahnya masa depan PLS. Diharapkan pada penerimaan mahasiswa baru, Universitas Palangka Raya tidak menerima lewat undangan saja, namun harus juga lewat UMPTN. Kepada para rekan sejawat (dosen-dosen PLS) harus mampu mengubah sistem perkuliahan dengan mengutamakan teori-teori andragogy. Karena pasar kerja kita sudah jauh berbeda dari masa pendidikan masa 15 – 20 tahun silam. Pada waktunya nanti PLS sudah turut memikirkan pula terhadap mereka yang menghadapi pasca kerja di hari pensiun. Sebab Post Power Sindrom menunjukkan tanda-tanda kenaikan yang sangat bermakna dalam masa belakangan ini.

Dalam hal PLS guna mewujudkan manusia Indonesia memajukan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa agar memiliki kemampuan baca tulis. Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas), Depdiknas perlu mengadakan pembenahan-pembenahan, sebab kalau masih berjalan seperti selama ini, maka PLS yang dititipkan oleh pemerintah tak akan mampu diwujudkan.

Gerakan Nasional Orang Tua Asuh agar diusahakan dapat sampai ke wilayah pedesaan, sehingga upaya menolong kaum lemah segera terwujud.

Memperbaiki kelemahan yang selama ini dirasakan misalnya penempatan tenaga, cenderung merekrut para guru atau tenaga yang telah bertugas bertahun-tahun. Mereka di tempatkan untuk mendidik masyarakat pada bidang PLS. Padahal ia telah terbiasa (berpengalaman) melakukan pengajaran pada pendidikan formal. Terhadap tugas yang berhubungan dengan masyarakat, bukan teori andragogy yang ia berikan, melainkan cenderung paedagogy. Sehingga berapapun anggaran yang disediakan secara objektif cenderung kurang memberi manfaat. Mahasiswa PLS telah dipersiapkan, namun tenaga mereka juga diserap oleh Dinas Instansi lain, terutama bagi yang memiliki Diklat Balai Latihan dan penyuluhan.

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) perlu pembenahan, sebab kalau hanya sebagai tempat penampungan cenderung akan timbul keterlambatan untuk berpacu dan upayanya dalam pengentasan kemiskinan. Menurut U. Sihombing (2000) SKB hanya memiliki sejumlah papan nama kelompok belajar. Sehingga bila dicek di lapangan, ternyata kelompok belajar tersebut cenderung sudah bubar. Di sini ada dugaan ketidakmampuan para tenaga kita dalam menerapkan teori andragogy yang berbasis pada pendidikan orang dewasa, yang tidak dimiliki jurusan-jurusan lain.

Mengupas manajemen dan kebijakan dalam otonomi pendidikan untuk pemberdayaan masyarakat menurut Saiful Sagala (2000) ada dua saingan utama profesi kependidikan. Salah satu diantaranya orang luar (external) pendidikan yang menyatakan bahwa semua orang bisa mengajar (guru/pendidik) dan menduduki jabatan pendidikan, tetapi bagaimana menjadi guru yang baik dan memahami aspirasi pendidikan dalam jabatan, maka sampai saat ini belum ada yang menyatakan pendidikan berkualitas di Indonesia. Hal ini disebabkan latahnya dalam penempatan tenaga kerja kita, termasuk dalam menangani PLS yang belum efektif.

Bila kita menilik terhadap keterlibatan PLS dalam berbagai dinas/instansi di tanah air, maka hampir di seluruh instansi pemerintah maupun swasta pasti merasa memiliki ilmu ke-PLS-an ini. Sebab kalau kita mengkaji secara mendalam menurut Sarjan Kadir (1982) bahwa ada di beberapa negara termasuk Philipina menerapkan 4 jalur pendidikan, yakni Nonformal Education, Formal Education, Family Education dan Basic Education. Di Indonesia, dengan berlakunya Undang-Undang Pendidikan Nasional dewasa ini, menurut H. M. Norsanie Darlan (1998) bahwa pendidikan menerapkan 2 jalur saja, yakni pendidikan formal dan pendidikan luar sekolah.

Dari uraian di atas, kalau pendidikan formal berada di bangku sekolah sejak dari sekolah dasar sampai pendidikan tertinggi, maka hampir semua orang mencari kerja sudah menggunakan hal itu. Namun bila setiap instansi pemerintah maupun swasta yang ingin meningkatkan kualitas tenaga kerjanya dalam waktu relatif singkat, maka pendidikan luar sekolahlah jalur yang tepat. Dengan berpatokan undang-undang yang ada dan ingin meningkatkan keprofesionalan, maka tenaga kependidikan luar sekolah harus diberikan tempat untuk turut membenahi kelemahan kita bersama.

Salah satu contoh bila di dinas dan jawatan terdapat Diklat atau Balai Latihan Kerja, maka menilik UUPN no 2 tahun 1989 sebaiknya harus ada tenaga PLS yang turut menanganinya. Demikian juga pada penyuluhan, karena sedikit banyak telah ditanamkan dari berbagai teori andragogy selama di bangku kuliah. Di lembaga swasta sangat banyak corak dan ragamnya seperti kursus komputer, merias, menjahit dan bordir, berbagai keterampilan, serta kursus-kursus lainnya.

Dalam aspek sosial budaya masyarakat desa tertinggal masyarakat memiliki konsep budaya yang masih tinggi dan sebetulnya hanya sebagian kecil yang memiliki budaya tertutup. Konsep pembangunan yang ditawarkan termasuk pendidikan sudah mereka sadari dewasa ini. Pendidikan punya andil besar terhadap masa depan. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yakni faktor kesulitan biaya, jauhnya lokasi rumah, dan terbatasnya fasilitas belajar, serta belum banyak pendidikan yang ditawarkan memberikan motivasi mereka belajar. Salah satu strategi dan upaya penuntaskan Wajar Dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah, yang lokasi rumahnya jauh dari SLTP disediakan asrama siswa. Dalam penanganan pendidikan di Indonesia menurut Satrio Sumantri (2000) adalah sangat diperlukan adanya keterlibatan masyarakat dalam masalah pendidikan. Hal ini sesuai pula dengan GBHN di negeri kita tercinta ini.

Walau di berbagai daerah kondisi alam sangat menjanjikan terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat sekitarnya, namun mereka belum dapat menyelesaikan pendidikan formal sementara usia kerja sudah sampai. Untuk mengantisipasi itu, PLS Universitas Palangka Raya juga harus tanggap terhadap tantangan ini, agar warga masyarakat dapat diberikan bekal dalam menghadapi pasar kerja.

4. Simpulan

Dikmas Depdiknas baik di tingkat kecamatan, kabupaten maupun propinsi harus menyediakan lebih banyak tenaga-tenaga profesional dibidangnya seperti sarjana PLS dan Diploma. Sehingga salah satu upaya menuntaskan wajar Dikdas 9 tahun segera terwujud.

Dalam mendirikan SLTP-Terbuka, sebaiknya tidak satu tempat dengan lokasi paket B, karena programnya menjadi tumpang tindih. Kalaupun harus satu lokasi, perlu pemisahan yang jelas untuk SLTP-Terbuka bagi anak usia sekolah, dan bagi peserta paket B yang berusia 14 – 45 tahun. Dan bagi mereka yang belum tamat SD sebaiknya mengikuti program paket A fungsional. Atau pendidikan yang mampu mengantarkan kesejahteraan dia dan keluarganya.

Kelemahan kita selama ini yang sangat dirasakan pada ujung tombak Dikmas adalah tak mampu berperan banyak. Sebab dalam penempatan tenaga, cenderung merekrut para guru atau tenaga lain yang telah bertugas bertahan-tahun. Mereka di tempatkan untuk mendidik masyarakat pada bidang PLS. Padahal ia telah terbiasa (berpengalaman) melakukan pendidikan formal. Sehingga berhadapan dengan masyarakat, bukanlah teori andragogy yang ia berikan, melainkan cenderung paedagogy.

Salah satu strategi dan upaya penuntaskan Wajar Dikdas 9 tahun bagi anak usia sekolah, yang lokasi rumahnya jauh dari SLTP di sediakan Asrama Siswa.